Let me to read one of My Favorite Notes... cekidot jeh...
*Everlasting atau Keabadian
Saat kita sedang sendiri, kesepian, dalam masalah, membutuhkan teman,
lantas teringat dengan seseorang, berharap banyak dia akan membantu,
atau setidaknya mengusir sedikit gundah-gulana. Apakah itu disebut
cinta? Tentu saja. Tetapi kalau demikian, bukankah cinta jadi tidak
lebih dari seperangkat obat? Alat medis penyembuh? Selesai malasahnya,
saat kita kembali semangat, sembuh, maka
persis seperti botol-botol obat, seseorang itu bisa segera
disingkirkan. Sementara, dong? Temporer? Juga tentu saja, kecuali kita
selalu sakit berkepanjangan, dan mulai mengalami ketergantungan dengan
seseorang tersebut. Jika demikian maka cinta jadi mirip nikotin, candu.
Saat kita ingin selalu bersamanya, selalu ingin didekatnya, selalu
ingin melihat wajahnya, senyumnya, nyengirnya, bahkan gerakan tangan,
gesture, bla-bl-bla. Ingin mendengar suaranya (meski suaranya fals),
tawanya (walau tawanya cempreng); apakah itu disebut cinta? Tentu saja.
Bagaimana mungkin bukan cinta? Tetapi kalau hanya demikian, maka bawakan
saja imitasi seseorang itu ke rumah, taruh seperti koleksi patung, jika
ingin mendengar tawanya, stel sedemikian rupa biar dia tertawa, ingin
melihat dia bicara, stel agar dia bicara. Bukankah hari ini sudah banyak
teknologi imitasi seperti ini? Apakah itu akan berlangsung sementara?
Boleh jadi, karena persis seperti kolektor yang memiliki koleksi benda
antik, seberapapun berharganya, cepat atau lambat rasa bosan akan tiba.
Bisa sih disiasati dengan jarang-jarang melihat koleksi tersebut,
jarang-jarang bertemu biar terus kangen dan rindu, aduh, kalau demikian,
maka cinta jadi sesuatu yang kontradiktif, bukankah tadi dibilang ingin
selalu bersamanya.
Saat kita terpesona melihatnya, kagum
menatapnya, begitu hebat, keren, terlihat berbeda, cantik, gagah, dan
bla-bla-bla. Apakah itu disebut cinta? Bisa jadi. Tapi jika demikian
cinta tak lebih seperti pengidolaan, keterpesonaan. Jika demikian,
solusinya mudah, pasang saja posternya besar-besar di kamar. Jika
kangen, tatap sambil tersenyum. Taruh foto-fotonya di mana-mana. Selesai
urusannya. Apakah ini sementara? Temporer? Tentu saja. Saat idola baru
yang lebih keren tiba, saat sosok baru yang lebih hebat datang, maka
idola lama akan tersingkirkan. Jika demikian, maka cinta tak ubahnya
seperti lagu pop, cepat datang cepat pergi. Persis seperti anggota
boyband di tahun 80-an, basi di tahun 90-an, dan anggota boyband di
tahun 2012, dijamin basi banget di tahun 2030.
Saat kita
tergila-gila, selalu ingat dengannya, tidak bisa tidur, tidak bisa
makan, berpikir jangan-jangan kita kehilangan akal sehat, apakah itu
disebut cinta? Tentu saja. Tapi jika demikian cinta, maka ia tak lebih
dari simptom penyakit psikis? Sama persis seperti penjahat yang jadi
buronan, juga tidak bisa tidur, susah makan, dan terkadang berpikir
kenapa ia bisa kehilangan akal sehat menjadi penjahat. Sementara?
Temporer? Tentu saja. Waktu selalu bisa mengubur seluruh kesedihan.
Hampir kebanyakan orang akan bilang: “Saya tidak pernah tahu kapan
perasaan itu datang. Tiba-tiba sudah hadirlah ia di hati.” Ada sih yg
jelas-jelas mengaku kalau dia cinta pada pandangan pertama; sekali
lihat, langsung berdentum hatinya. Tapi di luar itu, meskipun
benar-benar pada pandangan pertama, kita kebanyakan tidak tahu kapan
detik, menit, jam, atau harinya kapan semua mulai bersemi. Semua
tiba-tiba sudah terasa something happen in my heart.
Terlepas
dari tidak tahunya kita kapan perasaan itu muncul, kabar baiknya kita
semua hampir bisa menjelaskan muasal kenapanya. Ada yg jatuh cinta
karena seseorang itu perhatian, seseorang itu cantik, seseorang itu
dewasa, rasa kagum, membutuhkan, senang bersamanya, nyambung, senasib,
dan seterusnya, dan seterusnya. Dan di antara definisi kenapa tersebut,
ada yang segera tahu persis kalau itu sungguh cinta, ada juga yang
berkutat begitu lama memilah-milah, mencoba mencari penjelasan yg akan
membuatnya nyaman dan yakin, ada juga yang dalam situasi terus-menerus
justeru tdk tahu atau tidak menyadarinya kalau semua itu cinta.
Cinta sungguh memiliki begitu banyak pintu untuk datang. Kebanyakan
dari “mata”, mungkin 90%. Sisanya dari “telinga”. Dari bacaan (membaca
sesuatu darinya), dari kebersamaan, dari cerita orang lain. Dari mana
saja. Lantas otak akan mengolahnya, mendefinisikannya menjadi: sayang,
kagum, terpesona, dekat, cantik, ganteng, cerdas, baik, lucu, dan
seterusnya. Kemudian hati akan menjadi pabrik terakhir yang menentukan:
“ya” atau “tidak”. Selesai? Tidak juga, masih ada ruang buat
prinsip-prinsip, pemahaman hidup, pengalaman (diri sendiri atau belajar
dari pengalaman orang lain) untuk menilai apakah akan menerima
kesimpulan hati atau tidak.
Ini proses cinta kebanyakan. Tetapi
orang-orang yang paham, maka pintu datangnya cinta bukan sekadar dari
mata atau tampilan fisik saja. Proses mereka terbalik, mulai dari
memiliki prinsip-prinsip, pemahaman-pemahaman yang baik, lantas hati dan
otak akan mengolahnya, baru terakhir mata, telinga dan panca indera
menjadi simbolisasi cinta tersebut.
Tetapi apapun pintu dan
prosesnya, jika akhirnya semua fase itu terlewati masih ada satu hal
penting lainnya yg menghadang. Yaitu kesementaraan. Temporer. Apakah
cinta itu perasaan yang bersifat temporer? Kabar buruknya ya. Jangan
berdebat soal ini. Sehebat apapun cinta kita, pasti takluk oleh waktu.
Tapi kabar baiknya, meski ia bersifat sementara, kita selalu memiliki
kesempatan untuk membuatnya ‘abadi’, everlasting. Bagaimana caranya?
Dengan pemahaman-pemahaman yang baik. Ada rambu-rambu agama yang harus
dipatuhi, ada nilai-nilai yang harus dihormati. Tidak bisa semuanya
diterabas. Ambisius memiliki. Pasangan yang memiliki hal tersebut, mereka bisa menjadikan
perasaan cinta utuh semuanya. Maka abadilah perasaan itu.
Terakhir, saat kita selalu termotivasi untuk terus berbuat baik hari
demi hari, memberikan semangat positif, terus memperbaiki diri setiap
kali mengingatnya, apakah itu juga disebut cinta? Iya, inilah hakikat
cinta. Saat perasaan itu menjadi energi kebaikan. Dan itu tidak berarti
kita harus selalu menyampaikan kalimat itu. Orang-orang yang menyimpan
perasaannya, menjaga kehormatan hatinya, dan menjadikan perasaan
tersebut sebagai energi memperbaiki diri, maka cinta menjelma menjadi
banyak kebaikan.
Apakah itu sementara? Memang sementara, nah,
semangat untuk terus memperbaiki diri karena cinta tersebut akan menjadi
jaminan keabadiannya. Percayalah, bagi orang-orang yang memiliki
pemahaman yang baik, cinta selalu datang di saat yang tepat, momen yang
tepat, dan orang yang tepat, semoga semua orang memiliki kesempatan
merasakannya.
*Darwis Tere Liye
Friday, 4 April 2014
Tuesday, 25 March 2014
Cuplikan Manusia Setengah Salmon
Hai.hai... apa kabar? Setelah seminggu lebih terkena flu demam tak berdaya, kini saatnya untuk berkarya kembali. sepertinya aku gak pernah absen kalo lagi musim flu gini -_- selalu kena dan parahnya penyakit yang satu ini biasanya, campur demam.... trus nyerempet-nyerempet ke penyakit typus. emang riwayatku dulu pernah kena juga sih. Jadi jaga diri baik-baiklah dan semoga kita semua sehat. aamiin.
langsung saja, aku ceritakan kembali inti dari buku yang aku punya "MANUSIA SETENGAH SALMON" karyanya Bang Dika nih, selain kocak dan lebay tapi karya-karnya selalu memberikan pesan moral yang sayang banget kalo gak dibaca dan buat nambah pengetahuan. Apa itu Manusia Setengah Salmon??? yuuuuk.. simak!
Sewaktu gue menulis buku ini, gue
mengalami banyak perpindahan. Gue mengalami pindah hubungan dengan nyokap gue.
Seiring dengan dirinya yang semakin tua, hubungan gue dan dia semakin erat.
Ketika lulus kuliah, gue mengalami
perpindahan ke dunia nyata yang semakin sengit. Ketika gue masuk ke dunia
nyata, gue mengalami perpindahan cita-cita. gue mengalami perpindahan selera,
yang tadinya tidak nyaman tinggal di rumah menjadi selalu kangen rumah kalo
lagi pergi jauh.
Hidup sesungguhnya adalah
potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. Dan kita hidup
diantaranya.
Seorang teman pernah cerita,
terakhir dia kumpul-kumpul sama temannya, dia merasa out of place.
Teman-temannya membawa kereta dorong berisi bayi. Sementara temen gue ini, dia
masih single dan belum punya pacar. Teman-temannya yang lain pada ngomongin
cara merawat anak dan popok apa yang pas, sedangkan dia seumur hidup belum
pernah megang popok.
Seorang teman lain baru lulus
kuliah, dan bapaknya yang sudah tua sering sakit-sakitan. Kerjaan dia sekarang
baby sitting, nungguin bapaknya di rumah, ngurusin bapaknya mulai dari obat
sampai menemani di kamar waktu malam hingga sang bapak biasa tertidur. Dia
bilang “Dulu, gue yang diurusin, sekarang gue yang ngurusin bokap.” Peran yang
dulu dilakukan oleh bokapnya ke dirinya, sekarang menjadi terbalik.
Pindah juga bisa menyangkut urusan
hati.
seorang teman lain menraktir gue baru-baru ini karena mampu melupakan manatan pacarnya. Ini adalah perjuangan luar biasa bagi dia yang hampir selama dua tahun belakangan masih terus dibayang-bayangi mantan yang meninggal terlalu cepat.
Tidak hanya hal-hal tadi. Kalu mau
dipikir-pikir, bagian-bagian di dalam tubuh kita juga pindah. Gerakan
peristaltik ketika kita menelan makanan membuat sarapan pindah dari mulut ke
kerongkongan dan akhirnya menuju lambung. Sel darah merah berpindah dari mulai
dipompa jantung hingga menyebar ke seluruh bagian tubuh. Bakteri di dalam
sistem pencernaan pindah dari usus kecil ke usus besar.
Benda mati juga berpindah-pindah.
Mobil berpindah setiap hari, debu-debu di rumah terbang ketika ada angin,
bahkan dalam skala yang paling kecilelektron berpindah-pindah, berputar
mengelilingi proton dan neutron dalam sebuah atom.
Dan......, foto mesra sepasang
kekasih bisa pindah dari pigura ke tempat sampah sehabis mereka putus.
HIDUP penuh dengan ketidakpastian,
tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Setiap kali gue ke ariport
untuk kerja ke luar kota, gue selalu melihat orang-orang yang hendak pergi
berpelukan dengan keluarga atau pacarnya di depan pintu masuk. Kepindahan
mereka membuat orang-orang terdekatnya merasa sedih.
Kalau pindah diidentikkan dengan
kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya. Kita sering
berpikir ini adalah perpisahan sehingga merasa sedih melepas hal-hal yang
diakrabi, hal-hal yang selam ini membuat kita senang dan nyaman. Akhirnya,
melakukan perpindahan ke tempat baru membuat kita dihantui rasa cemas. Apakah
akan sama enaknya? Apakah akan sama menyenangkan? Apakah akan lebih baik?
Padahal, untuk melakukan pencapaian
lebih, kita tak hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan yang
lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita
harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk
mewujudkan harapannya. Bahkan rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa
yang diinginkannya.
Gue jadi berpikir, ternyata untuk
mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue
hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: Berani Berpindah .
Friday, 14 March 2014
ADA MODUS DI DALAM BUS
Hai Maret.... Apa Kabar? Semoga semakin gerettttt!! Lama juga saya gak posting... lumayan lah ada sedikit pengalaman yang mau saya bagi, tentang perjalanan saya minggu lalu... Langsung simak deh...
Mbak turun
dimana?#di Karangampel#
kalo saya sih turunnya di semarang, beuuuuh jauhnya#oh,
iya jauh(GAK NANYA TUH)#
sendirian ajah?#iyah#
suaminya gak nganter yah?#belum
punya suami (KEPO NIH, ORANG)#
oh, kirain sudah menikah, soalnya saya liat ada cincin
di jarinya mbak#oh... (RUPANYA INI ORANG PERHATIIN SAYA SAMPE SEDETIL INI)#
tapi,
sudah punya tunangan dong?#gak, belum (KEPONYA NAMBAH BANGET)#
emang yah mbak,
hari gini banyak juga yang sudah menikah atau tunangan cincinnya gak dipake,
udah gitu ngakunya singel, mending kaya kita singel dan apa adanya#.....Cuma senyum.....(JLEB
BANGET, APA KAMU BILANG???? K I T A??? HA??)#
oh iya dari tadi ngobrol saya
belum tau nama mbak siapa?#.......trengteng.teng.teng.trengteng.teng.teng....
bunyi ringtune Fuck You-Lily Allen..... ”Hallo, Assalamu’alaikum Pa....
belum.... baru nyampe Sukamandi....” (ALHAMDULILLAH, BAPAKKU TELPON).
Dan Syukurlah
Pembicaraanku dengan si KEPO BIN MODUS berakhir..... (INGAT, JANGAN TERTIPU
OLEH PENAMPILAN)
Itulah sepenggal
pengalaman saya naik bus umum sendirian dalam perjalanan jauh, lumayan menantang.
Berikut adalah tips-tips dari saya, kalo kita mau naik bus umum atau kereta,
dan transportasi umum lainnya, apalagi yang kelas ekonomi kebawah :
- Pake tas ranselnya di depan, biar bisa nutupin dada. Lagian kalo digendong kebelakang rawan copet.
- Jangan ngantuk/tertidur apabila perjalanan sendirian dan pertama kali.Kalo ada temnnya mungkin bisa giliran jaga-jaga (POS Ronda Kaleeee) Kebablasan bisa gawat.
- Harus waspada dengan orang sekitar, sekalipun itu orang jualan, pengamen atau orang sebangku.
- Kalo ditawarin minum atau makan lebih baik ditolak (takut diracun jeh) dan ucapkan terimakasih biar sopan.
- Kalo diajak ngobrol sama orang lain jangan tatap matanya nah, Lho (takut dihipnotis jeh) bicara sepenuhnya.
- Siapin uang receh, biasanya bus/Kereta umum yang kelas ekonomi gini, banyak pengamen jalanan.
- Jangan lupa pula siapin uang pas buat ongkos, biasanya kernet banyak yang narif harga seenaknya apalagi pura-pura lupa ngasih kembalian.
- Kalau mau turun/naik harus siap-siap dari jarak jauh, biar gak buru-buru. Tau deh bus itu kan biasanya kejar setoran dan saingan sama bus-bus yang lain, rebutan penumpang (ugal-ugalan).
- Jaga barang-barang bawaan kita, perhatikan, dan periksa terutama yang berharga sepanjang perjalanan maupuun ketika hendak turun.
- Dan berdo’a semoga selamat sampai tujuan.
Dan masih banyak lagi
tips-tips yang belum saya sebutkan. Apa salahnya kita mencoba untuk waspada.
Karena kejahatan itu ada
dimana-mana. Gak ada niat buat jahat, tapi ada kesempatan. Gak ada kesempatan
buat jahat, tapi selalu diniatin jahat. Ada juga kejahatan dalam kesempitan.
Ada yang udah niat jahat ada kesempatan pula. Orang baik dibelahan dunia manapun ada, pun sama
dengan orang jahat selalu ada dibelahan dunia manapun.
Apalagi sekarang
marak banget, pelecehan seksual di transportasi umum.
Saya Lia
Purwati..... Pamit.
Waspadalah-waspadalah….
Saturday, 15 February 2014
Melupakan Yang Menyakitkan
*Melupakan
Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal-hal indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tersebut.
Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh-jauh, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.
Bagaimana mengatasinya?
Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika terbalik. Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari kenangan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu peluk erat. Terima dengan senang hati. Bilang ke diri sendiri: "Saya punya masa lalu seperti ini, pernah dekat dengan orang MENYAKITKAN itu, saya terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena saya tahu, besok lusa saya bisa jadi lebih baik--dan semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki diri." Letakkan kenangan tersebut dalam posisi terbaiknya. Jangan dilebih-lebihkan dan jangan diistimewakan.
Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan itu. Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan kita pernah beli bakso depan rumah, beribadah bersama, pergi ke pantai, naik motor berdua, makan mie rebus bersama, hanyut dibawa oleh hal-hal baru yang lebih seru. Ketahuilah, racun paling mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang tepat, besok lusa jika kita tidak semaput oleh racun tersebut, kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas bisa dibiasakan.
Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu atau seseorang, maka justeru dengan mengingatnya. Terima seluruh ingatan itu.
Well, gak perlu kita belajar menaklukan api, air, angin, ataupun sesuatu yang berduri untuk menjadi orang yang sakti. Cukuplah kita belajar menaklukan hati, itu sudah bisa dibilang sakti. Berdamailah pada diri sendiri.
*Tere Liye (dikreasi ulang oleh : yang punya Blog Pribadi)
Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal-hal indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tersebut.
Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh-jauh, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.
Bagaimana mengatasinya?
Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika terbalik. Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari kenangan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu peluk erat. Terima dengan senang hati. Bilang ke diri sendiri: "Saya punya masa lalu seperti ini, pernah dekat dengan orang MENYAKITKAN itu, saya terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena saya tahu, besok lusa saya bisa jadi lebih baik--dan semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki diri." Letakkan kenangan tersebut dalam posisi terbaiknya. Jangan dilebih-lebihkan dan jangan diistimewakan.
Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan itu. Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan kita pernah beli bakso depan rumah, beribadah bersama, pergi ke pantai, naik motor berdua, makan mie rebus bersama, hanyut dibawa oleh hal-hal baru yang lebih seru. Ketahuilah, racun paling mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang tepat, besok lusa jika kita tidak semaput oleh racun tersebut, kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas bisa dibiasakan.
Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu atau seseorang, maka justeru dengan mengingatnya. Terima seluruh ingatan itu.
Well, gak perlu kita belajar menaklukan api, air, angin, ataupun sesuatu yang berduri untuk menjadi orang yang sakti. Cukuplah kita belajar menaklukan hati, itu sudah bisa dibilang sakti. Berdamailah pada diri sendiri.
*Tere Liye (dikreasi ulang oleh : yang punya Blog Pribadi)
Monday, 20 January 2014
Bahasa Alam
JANUARI =
Hujan Penuh sehari-hari..
Akhirnya aku
menulis yaaaah… kalimat-kalimat perumpamaan atau sejenis puisi gitu, ini semua
terisnpirasi dari berita-berita di tv dan berita online lainnya, yang sekarang
ini melanda negeri kita Indonesia. Yupz, awal tahun sudah diuji dengan Erupsi
Gunung Sinabung yang dahsyat, Banjir Bandang di Medan, gempa di Maluku dan Banjir tahunan yang mungkin sebagian orang itu
sudah biasa melanda apalagi yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Tapi bagaimana
dengan tanah kelahiranku? Indramayu? Gak nyangka, tahun ini kena banjir yang
bener-bener banjir seperti di Jakarta sana… ini pertama kali terjadi banjir
yang luar biasa di Indramayu bagian barat, khusunya bagian jalan pantura. “Dan satu
lagi, temenku tadi ngabarin kalo rumahnya sampe kemasukan air dan ular pun
ngungsi masuk ke dalam rumah….!! Iiiiiihhhh….. jangan dibayangin!!!”
Alhamdulillah,
sementara di Desa tempat tinggalku masih aman dan terkendali khususnya rumahku dan keluarga besarku..... hanya saja sawah dipinggir
rumahku persis lautan yang membentang…. Tanaman padi RATA dengan air alias
tenggelam. Bagi Bapakku yang seorang petani, hatinya was-was…. Bagaimana tidak??
Bisa-bisa gagal panen dan penghasilan tersendat. Walaupun begitu masih
bersyukur, masih diberikan nikmat sehat sekeluarga semua. Ya Robbi, kami semua
berlindung pada-MU.
BAHASA ALAM
Salju tak
pernah turun…. Pun sama gersang tak pernah menyengat…. Tak Seterik di Afrika
sana atau tak sedingin di Kutub utara…. Orang bilang tanah yang kuinjak ini
adalah tanah surga… nama negaranya Indonesia….. subur makmur hingga tongkat,
batu dan kayu bisa menjadi tanaman…. Gunung yang tinggi menjulang bersama
ilalang dibawahnya, sawah dan pepohonan menjadi ladang pangan…. Indah nan elok.
Alam semesta tersenyum merona ketika semua sejalan sesuai kaidah-kaidah yang
ada…. Namun, sikapilah dengan cermat! Seketika semua kelestarian bisa hancur
bersama murka sang alam… kemana perginya warna hijau? Kemana perginya ladang
yang lapang? pesona gunung yang indah kini memudar, berubah menjadi tumpukkan
sampah yang sedikit demi sedikit menyerupai bukit….. “Lalu, ini ulah siapa??,
manusia?”…. Barulah kau tahu rasa!! Banjir dimana-mana, tanah longsor dan gempa
melanda, letusan gunung melumatkan semua…. Dan ombak di laut sana siap
menerjang…. Alam pun mulai berbahasa.
Aku termenung….
Melihat sekitar, teduh ini masih kurasa…. Kicau burung masih kudengar, pepohonan
riwayatmu kini masih terjaga… dipagi ini suasananya syahdu.... inilah
rumahku... kampung halamanku.... berharap tak kena musibah seperti di kota-kota
dalam berita.... karena kupercaya alam pun berbahasa ramah…… pada setiap Desa
ataupun kota yang selalu dijaga lingkungannya... untuk yang terkena musibah
semoga tabah....
*) Nih, kata tante Anne Ahira:
Jangan marah kalau hujan terus menerus turun sampai BANJIR di mana-mana.
*) Nih, kata tante Anne Ahira:
Jangan marah kalau hujan terus menerus turun sampai BANJIR di mana-mana.
Mau tau penyebabnya?
Karena banyak di antara kita yang bandel dan berdosa! Coba, masih ingat apa yang Anda lakukan pada tgl 1-1-2014 pukul 00.01 ??
Manusia 'menyerang langit' dengan berjuta-juta petasan!!
Jadi yaah... terimalah dengan ikhlas dan lapang dada 'serangan balik' dari langit!
Mestinya kita bersyukur, karena langit menyerang kita hanya dengan air saja. Bayangin kalo yang turun dari langit PETASAN!
Bolong-bolonglah kepala kita. Jadilah kita zombie nanti.
Manusia 'menyerang langit' dengan berjuta-juta petasan!!
Jadi yaah... terimalah dengan ikhlas dan lapang dada 'serangan balik' dari langit!
Mestinya kita bersyukur, karena langit menyerang kita hanya dengan air saja. Bayangin kalo yang turun dari langit PETASAN!
Bolong-bolonglah kepala kita. Jadilah kita zombie nanti.
![]() |
| kabar-indramayu.blogspot.com |
![]() |
| tribunjabar.co.id |
![]() |
| poskota |
Thursday, 9 January 2014
Liburan Numpang Sakit
Hey Yo… Hallo Apa Kabar di tahun baru 2014??
Semoga semakin didepan… eh,, Kaya iklan motor :D maksudnya..
semoga semakin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin
Ngomongin tahun baru, ngomongin liburan tentunya…
Oke aku akan cerita liburan tahun baru kemarin. Dari dulu
sampai sekarang aku pengen banget berpetualang keliling kota. Jenuh tau, di
rumah mulu…. Tapi apalah daya… papahku selalu gak ngijinin dengan alas an inilah
itulah dan lain sebagainya.
Ringkas cerita, kali ini aku harus liburan…. Setidaknya bisa
keluar rumah untuk beberapa hari dan emang dari dulu aku pengen ngerasain jauh
dari orang tua, pengen banget ngerasain jadi anak kost seperti kakak yang hidup
mandiri. Sepertinya keinginanku kali ini terkabul. Itupun dengan banyak syarat.
“Boleh kamu main ke tempat kost kakak kamu, tapi berangkatnya
harus dengan kakakmu….” Dan emang tahun baru, kakak pulang kerumah karena aktifitas di pabrik pun
diliburkan dari tanggal 29-12-2013 sampai tanggal 02-01-2014. Akhirnya akupun
ikut balik bareng kakak ke Subang biar
masih Jawa Barat, yang penting judulnya itu liburan.
Akhirnya liburan juga, ikut arus balik kakak dan teman-temannya ke subang…. Nginep 3 hari 2
malem… yeyy.. ngerasain jadi anak kost. Minggu ini kebetulan kakak berangkat
shift malem dari pukul 18.30 sampai 05.30. Jadi sudah pasti malem hari aku
tidur sendirian.
Naik mobil bus 1 kali, angkot 2 kali dan akhirnya sampe di
kost. Oh, ternyata suasa kost seperti ini?? Persis rumah susun. Depan
maing-masing kamar dihiasi dengan sandal, sepatu dan jemuran baju-baju. Dikamar
kost yang berukuran kira-kira 3x3 meter
nomor 17 ituah aku, kakak dan dua orang teman lainnya tinggal.
Setelah istirahat bentaran di kamar kost, aku diajak cari camilan yang pedas-pedas kaya
otak-otak gitu, tapi yang ini namanya lumpia basah dan sublak… ekstra pedas
bangettttt… ditambah pas pulang dari pasar kehujanan. Emang di sini setiap sore
sampai malam hari diguyur hujan. Hmmmm… makan yang anget plus pedas habis
diembat sampe lupa makan nasi, tapi sebagai pengganti aku makan roti.
Setelah sholat maghrib, kakak dan dua orang teman lainnya
bersiap-siap berangkat kerja. Menunggu bus jemputan di depan kost.
“dd hati-hati yah, mbak pulang biasanya jam 05.30. dd kalo
mau makan nasinya ada di ricecooker, lauknya juga ada tinggl pilih, kalo mau
keluar lihat-lihat keluar kost juga gak papa, tapi nanti dikunci ya kamar kost
nya. Dd berani kan?”
“Iya, mbak berani dong… tp males keluar ah, lagian di luar
ujannya awet. Dd langsung kunci pintu ajah, nonton film”
Malam pertama di kost, tidur sendirian. Kakak dan kedua
temennya berangkat kerja shift malem. langsung kututup pintu sekaligus
menguncinya. Gulang-guling gak karuan susah tidur lampu terlalu terang gak
temaram, belum terbiasa. gerah gak ada
kipas. Pengen pake pakaian minim takut ada yang ngintip. Tau kan bukan rumah
sendiri, udah gitu banyak kecoa berlarian kesana-kemari. Niatnya aku matiin
lampu tapi terlalu gelap bikin nyaliku menciut. Kucoba menikmati, online FB,
Whatsapp, Wechat, main games, dengerin MP3 sampe charger HP nyolok terus.
Ternyata jari-jariku sudah mulai cape, tapi belum juga tidur padahal sudah
pukul 24.00. kini aku mulai menonton Film pada DVD Portable, yah sampai mataku
bener-bener terpejam pukul 02.00. bangun pukul 04.00 mandi dan dilanjut sholat
subuh. (dd, mbak lagi di bus jemputan OTW pulang, dd udah bangun belum?) sms
dari kakak. Akhirnya kakak pulang pukul 05.30 pagi.
Pagi-pagi ke dapur umum buat masak mie goring, entah kenapa
aku gak mau makan nasi.
Alhasil setelah makan, kepala pusing, sakit perut, mual,
keluar masuk toilet sampe 6 kali. Kebayang gak sih?? Semua isi dalam perut
terkuras habis, lemas tanpa tenaga. Untung saja tiap kamar toiletnya sudah
tersedia.
“dd, mbak sudah bilang
kamu harus makan nasi jangan makan mie, tadi kamu juga makan sublak sampe lahap bener . Ditambah kamu kurang tidur cuma 2 jam.
Udah pasti tuh masuk angin campur diare…. Bla…bla…bla….”
(horeeee dapet omelan….!!)
“Kapan Balik?” (sms dari papah). Padahal baru sehari eeeh,
udah ditanyain kapan balik.
“Nanati pah, hari sabtu atau minggu” (balesanku)
Yaaaah liburan ke Subang Cuma buat numpang sakit. Dan
ujung-ujungnya ngerepotin kakak. Kepalaku dipijitin, dikasih minyak kayu putih,
dibikinin teh pahit, dibikinin susu,
dibeliin obat.
“dd, awas jangan bilang-bilang orang rumah kalo kamu sakit. Nanti
mbak yang diomelin, dan pastinya papah gak bakal ngijinin kamu pergi-pergi lagi”
(kakak)
“Iya mbak, gak bakal kok”
Haduuuuh diluar dugaan. Maafin aku ya mbak. Seharusnya mbak
istirahat, kan capee habis pulang.
Tadinya hampir gak jadi, shopping. Tapi kerana ada kakak yang
siaga akhirnya diareku mendingan. Let’s Go!... shopping beli ini dan itu dan
apa yang terjadi?? Ditempat shopping aku hampir pingsan, untung aku banyakin
jongkok dan langsung cepat-cepat pulang ke kost untuk istirahat. Haduuuh..
ternyata belum sembuh total. Emang diareku sudah gak intens, tapi sekarang
malah demam. Suhu badanku naik, panas banget. Aku Cuma bisa merem, tubuh terasa
sakit semua kaya abis dipukulin.
Malam Kedua. “Mbak gak tega ninggalin dd sendirian di kost,
apa mbak gak usah masuk kerja yah?.
“Gak usah mbak, dd udah mendingan kok. Diarenya udah enggak
Cuma badan pada sakit. Dd bakal nurut, minum obat dan nanti abis sholat
langsung istirahat, jadi mbak berangkat ajah”
Aku putuskan untuk langsung tidur, lampu aku matiin, DVD aku nyalain sampe pagi sebagai pencahayaan, dan memang kondisi fisik
sudah lelah. Mungkin malam pertama di kost yang belum terbiasa, dan dimalam
kedua aku mencoba menikmati. Alhamdulillah, langsung ketemu subuh dengan
kondisi fisik yang sudah sehat kembali. Oh iya sore kemarin, aku libur mandi….
Hehe, tp paginya mandi doooong… aku beres-beres kamar kost, siapin
barang-barang yang akan aku bawa pulang. Kali ini aku sarapan nasi kuning dan
minum susu.
Kali ini kakak nganterin aku sampai ke terminal Sukamandi,
nunggu bus jurusan Karangampel. Terlihat banget dari raut wajahnya masih lelah,
tapi kakak tetep nganterin aku sampai ke terminal.
“dd hati-hati yah, barang bawaan inget ada 3 tas, dan ini kue
bolu sama brownis awas kedudukkan. Kalo ada apa-apa langsung hubungi mbak…
hati-hati ya sayang” (sebelum naik bus)
“Makasih ya mbak, maaf dd ngerepotin” (dadaaaaaah)
Alhamdulillah, kondisi di dalam bus gak terlalu banyak
penumpang… masih banyak bangku-bangku yang kosong. Tapi si kernet bus agak
genit dikit!
Aku duduk di bangku yang paling belakang, dekat pintu
belakang.
“Neng, ke tengah saja.. disitu banyak angin” (kernet)
Lalu ku jawab dengan denyum dan gelengkan kepala. Eeeh, malah
si kernet mendekat dan duduk di sampingku… iiiih banget.
“Neng sendirian? Habis dari mana? Kerja apa liburan?”
(kernet)
KEPO deh!!!, udah tau banyak bangku yang kosong, ngapain
mepet-mepet pojok ke sampingku!
“iya bang sendirian, abis liburan”.
“Maen HP mulu dari tadi, smsan sama pacarnya yah? Boleh minta
nomer HP nya dong?”. Untung ada beberapa penumpang yang baru naik, jadi bisa
mengalihkan perhatian si kernet tadi dan langsung cepat-cepat ku taruh barang
bawaan disampingku dan sebagian barang aku pangku. Biar bangku disampingku gak
ditempatin sama si kernet tadi.
Sepanjang perjalanan Papah dan kakak memantau melalui
sms-sms. Alhamdulillah sampai rumah kembali dengan selamat tanpa ada halangan.
Berrrrrrrrrr sore hingga malam diguyur hujan lebat. Langsung ku lanjut
istirahat.
Sudah ngerasain Jadi anak kost, harus mandiri dan selalu waspada. harus pinter-pinter menjaga pergaulan dengan sesama.harus pandai mengatur pola makan dan kebutuhan sehari-hari. apalagi kalau sakit, haduh... berasa banget butuh keluarga yang bener-bener peduli sama kita. dan intinya, aku gak ada bakat menjadi seorang perantau..
E N D
![]() |
| Walau Sakit, Masih Tetep Eksis! :D |
Subscribe to:
Posts (Atom)





