selamat datang

layar


Thursday, 10 April 2014

Energi Cinta


It’s amazing.... Subhanallah... Lagi.lagi cinta dan cinta
Rasanya jari jemariku semangat untuk menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan cinta. Disini aku ngebahas Energi/Kekuatan positif dari cinta. Cinta bisa merubah segalanya (orang bijak bilang begitu). Seperti yang dialami temanku yang satu ini.

Dia jatuh cinta pada teman sekampung, satu RT. Denger-denger sih dia naksir si perempuan itu sudah lama. Tapi sampai sekarang belum ada respon dan mungkin jika rasa cinta bisa dialihkan dia akan lebih memilih jatuh cinta dengan orang yang jauh atau dengan orang yang menyayangi dia juga. Bayangin ajah dia sama si perempuan masih saudaraan (neneknya dia sama neneknya si perempuan saudaraan). Apasih yang gak bisa bila Tuhan sudah berkehendak??? (enak banget yah kalo rasa cinta bisa kita alihkan sesuai dengan keinginan kita). Karakter si perempuan menurut aku sih, dia orangnya pendiam, cantik, mandiri, suka membaca buku (kadang share juga sih buku2 terbaru denganku)  taat beribadah dan sudah belakangan ini dia (perempuan) memakai jilbab/kerudung. 

Suatu ketika :
(di Whatsapp, aku liat Photo Profilnya dia adalah Photo si Perempuan yang setahuku sangat dia kagumi)

Aku : “Cieee..... PP nya cantik banget yah... hem...hem... aku setuju banget”
Dia : “hehe... Cuma iseng kok”
Aku : ah, beneran juga gak papa....
Dia : “Iya Li, Cuma iseng dan gak ada kerjaan”
Aku : “hellow gak ada kerjaan?? Nyapu kek, nyuci kek... kerjaan banyak banget tuh”
Dia : “Ah, bisa ajah... oh ya di kampung ada kabar apa?”
Aku : “Aduuuuh... ini juga bisa ajah mengalihkan pembicaraan -_-“
Dia : “hahahaha.... pinter banget.... kok tau??”
Aku : “Ya iyyalah, laki-laki mah biasanya gitu kalo diungkit perasaan ngeles terus....”
Dia : “Tuh,,, sudah tau”
Aku : “eh, kalo orang sayang tuh dikejar terus sampe dapet... usahain sampe jatuh bangun”
Dia : “Tapi aku pesimis Li, sepertinya aku Kurang baik buat dia... keadaan juga gak memungkinkan”
Aku : “Lho... kok gitu?? Sama-sama manusia kok... lagian kamu bisa belajar memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Gak ada yang gak mungkin kalo Allah berkehendak” (Sok Dewasa. Hehe)
Dia : “Hmmm... Iya juga sih Li,  Suwun yo... atas sarane... eh gimana kabar dikampung Jeh, belum dijawab??”
Aku : “oh iya, jangan khawatir di kampung Kipangi ini aman dan terkendali kok”
Dia : “Ok, Bagus-bagus... terimakasih atas laporannya Bu”
Aku : “Sami-sami Paduka...”
Dia : “Haha.. bisa becanda juga....”

Yah, begitulah cuplikan obrolanku dengan temanku, yang sekarang masih dan sedang bekerja di Luar Kota. Emang aku dan dia sering komunikasi nanyain kabar di kampung, usia kami terpaut 2 tahun dan sangat berat aku katakan  yang lebih tua adalah aku -_-  dia tetanggaku sih, awalnya aku sama dia biasa-biasa saja gak tegur sapa, tapi pas dia lulus sekolah dan bekerja di luar kota, dia sering minta tolong ke aku kalo mau kirim uang bulanan untuk ibunya di kampung. Alhasil kami berdua sering komunikasi.

Singkat cerita, temenku ini berpikir dan bertanya pada diri sendiri... (merenung kali yah) apa yang menyebabkan perasaannya terabaikan oleh orang yang dia kagumi? Apa yang membuat si perempuan tadi acuh tak acuh? Oh... mungkin dirikulah yang kurang baik, Agamaku mungkin kurang sempura, pemahamanku tentang cinta mungkin tak seberapa, aku harus selalu berfikir positif.
Dan sekarang..... waktunya untuk dia merubah sedikit demi sedikit untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dia mulai hoby membaca buku, dia mulai mendekatkan diri lagi kepada Allah (yang aku kenal sih, sebelumnya juga dia orangnya baik, nurut sama orang tua dan dia juga sebagai tulang punggung keluarga). Perubahan ke arah yang lebih baik. Inikah yang disebut Hidayah?? Entahlah... 

Suatu Ketika :
(Obrolan di Whatsapp)

Dia : “Assalamu’alaikum”
Aku : “Wa’alaikumussalam... napa Del? Di Kampung Kipangi aman dan terkendali kok”
Dia : “Haha... sudah hapal betul ternyata....”
Aku : “Iya dong... sudah diantisipasi kok...”
Dia : “eh... punya buku bagus gak? Yg auradan (bacaan barzanji), atau bacaan-bacaan yg bagus lah”
Aku : “hmmm... Auradan yah? Yg kaya gimana? Kan banyak jenisnya del... kalo punya Bapakku  tulisannya arab jawa del... tapi aku punya buku-bukunya Salim A. Fillah... tau gak? Itu juga bagus-bagus”
Dia : “wah... aku gak tau tapi pernah denger sih... boleh tuh minjem... kalo bisa sih sama auradan yang bacaan selesai sholat sehari-hari”
Aku : “eh engga ding... kalo yang bacaan sehari-hari aku punya”
Dia : “Okelah kalo begitu, eh kamu tanggal 9 April Nyoblos gak?
Aku : “Nyoblos enggak yaaaaaaa?... undangannya sih dapet... kamu mau pulang kampung?”
Dia : “Iya Li, dikasih libur suruh nyobles jeh... yaudah nanti aku sekalian pinjem Buku ya Li...
Aku : “Oke... aku tunggu..... Cieee yang jadinya Hoby baca :D" 
Dia : “Iya Li, disini kalo lagi libur sering BT jadi ya aku luangin waktu buat baca-baca buku. Aku rasannya pengen kaya dulu... masa kecil yang adem ayem tentram”
Aku : “Maksud kamu, sekarang kamu gak enak hidup?”
Dia : “Ya bukan juga sih, waktu kecil dulu kan.. jaman-jamannya rajin ke masjid... ngaji... selalu belajar deket sama Allah.... sekarang kan kita sudah disibukkan dengan bekerja... Lah kamu enak deket dari mushola dan gak jauh dari orang tua”
Aku : “Oooh, gitu... iya juga sih Del.... aku kira kamu semangt gara-gara dia.. ehem..ehem..”
Dia : “Dia juga berpengaruh Li, pada perubahanku yang sekarang... melalui dia aku jadi semangat buat belajar lebih baik lagi... kan kalo orang yang baik pasti jodohnya yang baik lagi... hehe”
Aku : “Siippp... gitu dong... jangan putus asah juga buat dapetin dia yah... haha”
Dia : “Tapi, kalopun aku gak sama dia, aku tak apa-apa. aku akan lanjutin memperbaiki diri Li”
Aku : "Naahhh.. Gitu Dong... God Job!" 
Dia : "Iya makasih atas saran dan semuanya... kamu sih tau gak toko buku di Indramayu dimana?" 
Aku : "aku paling ke Salemba.... tapi seringnya via online di FB sama di Whatsapp juga ada. Tau sendiri kan, di Indramayu jauh dan kurang lengkap toko bukunya... bioskop juga gak ada.. harus ke Cirebon dulu... Cape deh.. -_-"
Dia : "Iya.ya... yaudah aku minta alamatnya dong sama Nope Whatsappnya yah..."
Aku : "Oke... tar aku kirimin secepatnya..."


Kesimpulannya :
Seperti yang sudah-sudah aku postingkan tentang cinta.  Dengan cinta Enegri yang positif dapat hadir dalam hidup kita, tanpa disadari atau tidak... “Bila bahagia mulai tercipta, seakan ku bisa hidup lebih lama.... namun harus kutinggalkan cinta, ketika ku bersujud” sepenggal syair lagu ini emang bener..... kalo lagi jatuh cinta itu bisa ngebuat kita semangat menjalani hidup, lebih banyak tersenyum dan bangun pagi lebih semangat (Kaya pas aku jatuh cinta dulu.. hehe), atau bahkan perubahan yang kaya semacam cerita temenku tadi. Melalui orang kita sayangi, kagumi, cintai, dan sukai... Allah berikan jalan Hidayah-Nya sesuai dengan apa yang Dia Kehendaki.

So, Nikmatilah masa-masa kasmaran kalian dengan aman dan terkendali... :-) karena masa-masa seperti inilah yang banyak dinanti.... ingat rambu-rambu, ada merah.... kuning...... hijau...... congrat, guys...!

Sesekali kadang ungkapan kebahagiaan ingin kita bagikan dalam sebuah status agar orang lain tahu, betapa menggairahkan orang yang dilanda cinta.. seperti yang ini-ini....

 
Gak Cuma Perempuan, Kadang Laki-laki juga mengungkapkannya Lho...

Tuh liat, baru denger suaranya saja, bisa lega seperti itu... apa lagi bisa bersama sama orangnya.??? MUNGKIN semua masalah dan hutang-hutang seketika hilang... criiiing! ajaib. :D

Kalo yang satu ini, Kayaknya Dunia serasa milik mereka berdua deh... hmmm.... yang lain ngontrak kali yah??! hehe..

Wadaaaawww... yang ini ada statusku dulu waktu masih muda... :D mungkin ini pasang alarm atau lagi banyak nyamuk sehingga bangun tidur lebih awal.





Friday, 4 April 2014

EVERLASTING atau KEABADIAN

Let me to read one of My Favorite Notes... cekidot jeh...

*Everlasting atau Keabadian


Saat kita sedang sendiri, kesepian, dalam masalah, membutuhkan teman, lantas teringat dengan seseorang, berharap banyak dia akan membantu, atau setidaknya mengusir sedikit gundah-gulana. Apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tetapi kalau demikian, bukankah cinta jadi tidak lebih dari seperangkat obat? Alat medis penyembuh? Selesai malasahnya, saat kita kembali semangat, sembuh, maka persis seperti botol-botol obat, seseorang itu bisa segera disingkirkan. Sementara, dong? Temporer? Juga tentu saja, kecuali kita selalu sakit berkepanjangan, dan mulai mengalami ketergantungan dengan seseorang tersebut. Jika demikian maka cinta jadi mirip nikotin, candu.

Saat kita ingin selalu bersamanya, selalu ingin didekatnya, selalu ingin melihat wajahnya, senyumnya, nyengirnya, bahkan gerakan tangan, gesture, bla-bl-bla. Ingin mendengar suaranya (meski suaranya fals), tawanya (walau tawanya cempreng); apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Bagaimana mungkin bukan cinta? Tetapi kalau hanya demikian, maka bawakan saja imitasi seseorang itu ke rumah, taruh seperti koleksi patung, jika ingin mendengar tawanya, stel sedemikian rupa biar dia tertawa, ingin melihat dia bicara, stel agar dia bicara. Bukankah hari ini sudah banyak teknologi imitasi seperti ini? Apakah itu akan berlangsung sementara? Boleh jadi, karena persis seperti kolektor yang memiliki koleksi benda antik, seberapapun berharganya, cepat atau lambat rasa bosan akan tiba. Bisa sih disiasati dengan jarang-jarang melihat koleksi tersebut, jarang-jarang bertemu biar terus kangen dan rindu, aduh, kalau demikian, maka cinta jadi sesuatu yang kontradiktif, bukankah tadi dibilang ingin selalu bersamanya.

Saat kita terpesona melihatnya, kagum menatapnya, begitu hebat, keren, terlihat berbeda, cantik, gagah, dan bla-bla-bla. Apakah itu disebut cinta? Bisa jadi. Tapi jika demikian cinta tak lebih seperti pengidolaan, keterpesonaan. Jika demikian, solusinya mudah, pasang saja posternya besar-besar di kamar. Jika kangen, tatap sambil tersenyum. Taruh foto-fotonya di mana-mana. Selesai urusannya. Apakah ini sementara? Temporer? Tentu saja. Saat idola baru yang lebih keren tiba, saat sosok baru yang lebih hebat datang, maka idola lama akan tersingkirkan. Jika demikian, maka cinta tak ubahnya seperti lagu pop, cepat datang cepat pergi. Persis seperti anggota boyband di tahun 80-an, basi di tahun 90-an, dan anggota boyband di tahun 2012, dijamin basi banget di tahun 2030.

Saat kita tergila-gila, selalu ingat dengannya, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, berpikir jangan-jangan kita kehilangan akal sehat, apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tapi jika demikian cinta, maka ia tak lebih dari simptom penyakit psikis? Sama persis seperti penjahat yang jadi buronan, juga tidak bisa tidur, susah makan, dan terkadang berpikir kenapa ia bisa kehilangan akal sehat menjadi penjahat. Sementara? Temporer? Tentu saja. Waktu selalu bisa mengubur seluruh kesedihan.

Hampir kebanyakan orang akan bilang: “Saya tidak pernah tahu kapan perasaan itu datang. Tiba-tiba sudah hadirlah ia di hati.” Ada sih yg jelas-jelas mengaku kalau dia cinta pada pandangan pertama; sekali lihat, langsung berdentum hatinya. Tapi di luar itu, meskipun benar-benar pada pandangan pertama, kita kebanyakan tidak tahu kapan detik, menit, jam, atau harinya kapan semua mulai bersemi. Semua tiba-tiba sudah terasa something happen in my heart.

Terlepas dari tidak tahunya kita kapan perasaan itu muncul, kabar baiknya kita semua hampir bisa menjelaskan muasal kenapanya. Ada yg jatuh cinta karena seseorang itu perhatian, seseorang itu cantik, seseorang itu dewasa, rasa kagum, membutuhkan, senang bersamanya, nyambung, senasib, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan di antara definisi kenapa tersebut, ada yang segera tahu persis kalau itu sungguh cinta, ada juga yang berkutat begitu lama memilah-milah, mencoba mencari penjelasan yg akan membuatnya nyaman dan yakin, ada juga yang dalam situasi terus-menerus justeru tdk tahu atau tidak menyadarinya kalau semua itu cinta.

Cinta sungguh memiliki begitu banyak pintu untuk datang. Kebanyakan dari “mata”, mungkin 90%. Sisanya dari “telinga”. Dari bacaan (membaca sesuatu darinya), dari kebersamaan, dari cerita orang lain. Dari mana saja. Lantas otak akan mengolahnya, mendefinisikannya menjadi: sayang, kagum, terpesona, dekat, cantik, ganteng, cerdas, baik, lucu, dan seterusnya. Kemudian hati akan menjadi pabrik terakhir yang menentukan: “ya” atau “tidak”. Selesai? Tidak juga, masih ada ruang buat prinsip-prinsip, pemahaman hidup, pengalaman (diri sendiri atau belajar dari pengalaman orang lain) untuk menilai apakah akan menerima kesimpulan hati atau tidak.

Ini proses cinta kebanyakan. Tetapi orang-orang yang paham, maka pintu datangnya cinta bukan sekadar dari mata atau tampilan fisik saja. Proses mereka terbalik, mulai dari memiliki prinsip-prinsip, pemahaman-pemahaman yang baik, lantas hati dan otak akan mengolahnya, baru terakhir mata, telinga dan panca indera menjadi simbolisasi cinta tersebut.

Tetapi apapun pintu dan prosesnya, jika akhirnya semua fase itu terlewati masih ada satu hal penting lainnya yg menghadang. Yaitu kesementaraan. Temporer. Apakah cinta itu perasaan yang bersifat temporer? Kabar buruknya ya. Jangan berdebat soal ini. Sehebat apapun cinta kita, pasti takluk oleh waktu. Tapi kabar baiknya, meski ia bersifat sementara, kita selalu memiliki kesempatan untuk membuatnya ‘abadi’, everlasting. Bagaimana caranya? Dengan pemahaman-pemahaman yang baik. Ada rambu-rambu agama yang harus dipatuhi, ada nilai-nilai yang harus dihormati. Tidak bisa semuanya diterabas. Ambisius memiliki. Pasangan yang memiliki hal tersebut, mereka bisa menjadikan perasaan cinta utuh semuanya. Maka abadilah perasaan itu.

Terakhir, saat kita selalu termotivasi untuk terus berbuat baik hari demi hari, memberikan semangat positif, terus memperbaiki diri setiap kali mengingatnya, apakah itu juga disebut cinta? Iya, inilah hakikat cinta. Saat perasaan itu menjadi energi kebaikan. Dan itu tidak berarti kita harus selalu menyampaikan kalimat itu. Orang-orang yang menyimpan perasaannya, menjaga kehormatan hatinya, dan menjadikan perasaan tersebut sebagai energi memperbaiki diri, maka cinta menjelma menjadi banyak kebaikan.

Apakah itu sementara? Memang sementara, nah, semangat untuk terus memperbaiki diri karena cinta tersebut akan menjadi jaminan keabadiannya. Percayalah, bagi orang-orang yang memiliki pemahaman yang baik, cinta selalu datang di saat yang tepat, momen yang tepat, dan orang yang tepat, semoga semua orang memiliki kesempatan merasakannya.

*Darwis Tere Liye

Tuesday, 25 March 2014

Cuplikan Manusia Setengah Salmon



 Hai.hai... apa kabar? Setelah seminggu lebih terkena flu demam tak berdaya, kini saatnya untuk berkarya kembali. sepertinya aku gak pernah absen kalo lagi musim flu gini -_- selalu kena dan parahnya penyakit yang satu ini biasanya, campur demam.... trus nyerempet-nyerempet ke penyakit typus. emang riwayatku dulu pernah kena juga sih. Jadi jaga diri baik-baiklah dan semoga kita semua sehat. aamiin.

langsung saja, aku ceritakan kembali inti dari buku yang aku punya "MANUSIA SETENGAH SALMON" karyanya Bang Dika nih, selain kocak dan lebay tapi karya-karnya selalu memberikan pesan moral yang sayang banget kalo gak dibaca dan buat nambah pengetahuan. Apa itu Manusia Setengah Salmon??? yuuuuk.. simak!


Sewaktu gue menulis buku ini, gue mengalami banyak perpindahan. Gue mengalami pindah hubungan dengan nyokap gue. Seiring dengan dirinya yang semakin tua, hubungan gue dan dia semakin erat.
Ketika lulus kuliah, gue mengalami perpindahan ke dunia nyata yang semakin sengit. Ketika gue masuk ke dunia nyata, gue mengalami perpindahan cita-cita. gue mengalami perpindahan selera, yang tadinya tidak nyaman tinggal di rumah menjadi selalu kangen rumah kalo lagi pergi jauh.

Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. Dan kita hidup diantaranya.

Seorang teman pernah cerita, terakhir dia kumpul-kumpul sama temannya, dia merasa out of place. Teman-temannya membawa kereta dorong berisi bayi. Sementara temen gue ini, dia masih single dan belum punya pacar. Teman-temannya yang lain pada ngomongin cara merawat anak dan popok apa yang pas, sedangkan dia seumur hidup belum pernah megang popok. 

Seorang teman lain baru lulus kuliah, dan bapaknya yang sudah tua sering sakit-sakitan. Kerjaan dia sekarang baby sitting, nungguin bapaknya di rumah, ngurusin bapaknya mulai dari obat sampai menemani di kamar waktu malam hingga sang bapak biasa tertidur. Dia bilang “Dulu, gue yang diurusin, sekarang gue yang ngurusin bokap.” Peran yang dulu dilakukan oleh bokapnya ke dirinya, sekarang menjadi terbalik.
Pindah juga bisa menyangkut urusan hati.

seorang teman lain menraktir gue baru-baru ini karena mampu melupakan manatan pacarnya. Ini adalah perjuangan luar biasa bagi dia yang hampir selama dua tahun belakangan masih terus dibayang-bayangi mantan yang meninggal terlalu cepat. 

Tidak hanya hal-hal tadi. Kalu mau dipikir-pikir, bagian-bagian di dalam tubuh kita juga pindah. Gerakan peristaltik ketika kita menelan makanan membuat sarapan pindah dari mulut ke kerongkongan dan akhirnya menuju lambung. Sel darah merah berpindah dari mulai dipompa jantung hingga menyebar ke seluruh bagian tubuh. Bakteri di dalam sistem pencernaan pindah dari usus kecil ke usus besar.
Benda mati juga berpindah-pindah. Mobil berpindah setiap hari, debu-debu di rumah terbang ketika ada angin, bahkan dalam skala yang paling kecilelektron berpindah-pindah, berputar mengelilingi proton dan neutron dalam sebuah atom.

Dan......, foto mesra sepasang kekasih bisa pindah dari pigura ke tempat sampah sehabis mereka putus.
HIDUP penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Setiap kali gue ke ariport untuk kerja ke luar kota, gue selalu melihat orang-orang yang hendak pergi berpelukan dengan keluarga atau pacarnya di depan pintu masuk. Kepindahan mereka membuat orang-orang terdekatnya merasa sedih.

Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya. Kita sering berpikir ini adalah perpisahan sehingga merasa sedih melepas hal-hal yang diakrabi, hal-hal yang selam ini membuat kita senang dan nyaman. Akhirnya, melakukan perpindahan ke tempat baru membuat kita dihantui rasa cemas. Apakah akan sama enaknya? Apakah akan sama menyenangkan? Apakah akan lebih baik?
Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan yang lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapannya. Bahkan rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkannya. 

Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: Berani Berpindah .


Friday, 14 March 2014

ADA MODUS DI DALAM BUS



Hai Maret.... Apa Kabar? Semoga semakin gerettttt!! Lama juga saya gak posting... lumayan lah ada sedikit pengalaman yang mau saya bagi, tentang perjalanan saya minggu lalu... Langsung simak deh...

Mbak turun dimana?#di Karangampel#
kalo saya sih turunnya di semarang, beuuuuh jauhnya#oh, iya jauh(GAK NANYA TUH)#
sendirian ajah?#iyah#
suaminya gak nganter yah?#belum punya suami (KEPO NIH, ORANG)#
oh, kirain sudah menikah, soalnya saya liat ada cincin di jarinya mbak#oh... (RUPANYA INI ORANG PERHATIIN SAYA SAMPE SEDETIL INI)#
tapi, sudah punya tunangan dong?#gak, belum (KEPONYA NAMBAH BANGET)#
emang yah mbak, hari gini banyak juga yang sudah menikah atau tunangan cincinnya gak dipake, udah gitu ngakunya singel, mending kaya kita singel dan apa adanya#.....Cuma senyum.....(JLEB BANGET, APA KAMU BILANG???? K I T A??? HA??)#
oh iya dari tadi ngobrol saya belum tau nama mbak siapa?#.......trengteng.teng.teng.trengteng.teng.teng.... bunyi ringtune Fuck You-Lily Allen..... ”Hallo, Assalamu’alaikum Pa.... belum.... baru nyampe Sukamandi....” (ALHAMDULILLAH, BAPAKKU TELPON). 
Dan Syukurlah Pembicaraanku dengan si KEPO BIN MODUS berakhir..... (INGAT, JANGAN TERTIPU OLEH PENAMPILAN) 

Itulah sepenggal pengalaman saya naik bus umum sendirian dalam perjalanan jauh, lumayan menantang. 

Berikut adalah tips-tips dari  saya, kalo kita mau naik bus umum atau kereta, dan transportasi umum lainnya, apalagi yang kelas ekonomi kebawah :


  • Pake tas ranselnya di depan, biar bisa nutupin dada. Lagian kalo digendong kebelakang rawan copet.
  • Jangan ngantuk/tertidur apabila perjalanan sendirian dan pertama kali.Kalo ada temnnya mungkin bisa giliran jaga-jaga (POS Ronda Kaleeee) Kebablasan bisa gawat.
  • Harus waspada dengan orang sekitar, sekalipun itu orang jualan, pengamen atau orang sebangku.
  • Kalo ditawarin minum atau makan lebih baik ditolak (takut diracun jeh) dan ucapkan terimakasih biar sopan.
  • Kalo diajak ngobrol sama orang lain jangan tatap matanya nah, Lho (takut dihipnotis jeh) bicara sepenuhnya.
  • Siapin uang receh, biasanya bus/Kereta umum yang kelas ekonomi gini, banyak pengamen jalanan.
  • Jangan lupa pula siapin uang pas buat ongkos, biasanya kernet banyak yang narif harga seenaknya apalagi pura-pura lupa ngasih kembalian.
  • Kalau mau turun/naik harus siap-siap dari jarak jauh, biar gak buru-buru. Tau deh bus itu kan biasanya kejar setoran dan saingan sama bus-bus yang lain, rebutan penumpang (ugal-ugalan).
  • Jaga barang-barang bawaan kita, perhatikan, dan periksa terutama yang berharga sepanjang perjalanan maupuun ketika hendak turun.
  • Dan berdo’a semoga selamat sampai tujuan.

Dan masih banyak lagi tips-tips yang belum saya sebutkan. Apa salahnya kita mencoba untuk waspada.
Karena kejahatan itu ada dimana-mana. Gak ada niat buat jahat, tapi ada kesempatan. Gak ada kesempatan buat jahat, tapi selalu diniatin jahat. Ada juga kejahatan dalam kesempitan. Ada yang udah niat jahat ada kesempatan pula. Orang baik dibelahan dunia manapun ada, pun sama dengan orang jahat selalu ada dibelahan dunia manapun.
Apalagi sekarang marak banget, pelecehan seksual di transportasi umum.

Saya Lia Purwati..... Pamit.

Waspadalah-waspadalah….

Saturday, 15 February 2014

Melupakan Yang Menyakitkan

*Melupakan

Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal-hal indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tersebut.

Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh-jauh, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.

Bagaimana mengatasinya?

Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika terbalik. Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari kenangan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu peluk erat. Terima dengan senang hati. Bilang ke diri sendiri: "Saya punya masa lalu seperti ini, pernah dekat dengan orang MENYAKITKAN itu, saya terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena saya tahu, besok lusa saya bisa jadi lebih baik--dan semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki diri." Letakkan kenangan tersebut dalam posisi terbaiknya. Jangan dilebih-lebihkan dan jangan diistimewakan.

Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan itu. Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan kita pernah beli bakso depan rumah,
beribadah bersama,  pergi ke pantai, naik motor berdua, makan mie rebus bersama, hanyut dibawa oleh hal-hal baru yang lebih seru. Ketahuilah, racun paling mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang tepat, besok lusa jika kita tidak semaput oleh racun tersebut, kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas bisa dibiasakan.

Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu atau seseorang, maka justeru dengan mengingatnya. Terima seluruh ingatan itu. 


Well, gak perlu kita belajar menaklukan api, air, angin, ataupun sesuatu yang berduri untuk menjadi orang yang sakti. Cukuplah kita belajar menaklukan hati, itu sudah bisa dibilang sakti. Berdamailah pada diri sendiri.

*Tere Liye (dikreasi ulang oleh : yang punya Blog Pribadi)