Jika sakitmu, lukamu, dan sedihmu dapat dibagi aku rela bersama semua itu...
Tapi, Tuhan berkehndak lain, Tuhan lebih sayang engkau...
Penyakit yang didertitamu adalah bahasa Tuhan Kepadamu…
Kau dengan kuatnya memikul semua itu demi aku dan semua…
Jika bijak, aku pun harus berbudi padamu...
Jika ku ingat dulu kau gadaikan tulangmu ke Timur tengah
Miris hati ini, hingga kini aku masih hidup dan tumbuh oleh real, dirham, dan dollar yang kau sisihkan.
Dalam darahku mengalir semua itu…
Kadang aku kalah dengan egoku, nafsuku, dan semua sifat setanku, tanpa kusadari anakmu ini menyakitimu,, dan memperpuruk keadaan....
Aku sangat sayang padamu, melebihi sayangku pada sang pacar.....
Karena raga ini sakit jika kau terus merintih…
Sakitmu sekarang, membuat aku mengerti…
Bahwa aku harus lebih menjagamu, dan melindungimu…
Harry Potter merupakan salah satu seri novel fantasi karya J. K. Rowling dari Inggris mengenai seorang anak laki-laki bernama Harry Potter. Sejak rilis pertama novel ini, Harry Potter dan Batu Bertuah pada tahun 1997 di Inggris, buku ini telah mendapatkan ketenaran dan kesuksesan secara komersial di seluruh dunia, diangkat menjadi film, video game, dan beragam merchandise.
Latar belakang kisah ini kebanyakan berada di Sekolah Sihir Hogwarts dan berpusat pada pertarungan Harry Potter melawan penyihir jahat Lord Voldemort, yang menggunakan Ilmu Hitam untuk membunuh orang tua Harry.
Kesemua tujuh buku yang direncanakan Rowling dalam seri novel ini telah diterbitkan. Buku keenam, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran versi asli bahasa Inggris diterbitkan pada 16 Juli 2005, sementara buku ketujuh, Harry Potter dan Relikui Kematian diluncurkan di seluruh dunia pada 21 Juli 2007 (versi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan pada tanggal 13 Januari 2008). Enam buku pertama dalam seri novel ini secara keseluruhan telah terjual lebih dari 325 juta kopi, dan telah diterjemahkan ke lebih dari 63 bahasa.[1][2]
Atas kesuksesan novel-novelnya ini, Rowling telah menjadi penulis terkaya sepanjang sejarah kesusasteraan.[3] Versi-versi asli dalam bahasa Inggris diterbitkan oleh penerbit Bloomsbury di Inggris Raya, Scholastic Press di Amerika Serikat, Allen & Unwin di Australia, dan Raincoast Books di Kanada. Versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Lima buku pertama telah diangkat menjadi film layar lebar oleh Warner Bros. dan mendulang kesuksesan besar. Film kelima, Harry Potter and the Order of the Phoenix, mulai diambil gambarnya pada Februari 2006, dan dirilis pada 11 Juli 2007 di Amerika Serikat. Film keenam, Harry Potter and Half Blood Prince, dirilis pada 15 Juli 2009.
Dulu aku ingin sekali setelah Lulus SMK kerja keluar kota, bersama teman-teman
Ngumpulin uang yang banyak untuk kedua orang tuaku
Pikirku ini mungkin bisa membuat mereka bahagia
Karena aku sadar diri, aku tidak mau membebani kedua orang tuaku dan lebih-lebih kakaku… maklumlah aku anak terakhir….
Saat itu aku kecewa dengan kedua orang tuaku, karena tidak mengizinkan aku
Mereka tetap kekeh dengan pendirian mereka, terutama Ayahku…
Jadi, apa boleh buat???
Beberapa temanku, memberikan luang kerja di tempat mereka tapi tentunya aku harus jauh dari orang tua, karena tempatnya tidak dekat… terpaksa aku harus menolaknya.
Aking sebalnya, jika ditanya teman-teman, “Kamu sibuk apa???” aku akan jawab “Nganggur”
Sampai pada suatu saat aku sudah tidak tahan, dan aku bertanya
“Mengapa kalian gak mengizinkan aku??? Niatku baik, aku akan berusaha membantu kalian, aku ingin seperti kakaku…. ia begitu mulia membantu kalian, membantu kita…, aku malu dengan teman-teman yang sudah bekerja, kuliah, dan menjalani hidup mereka yang lebih baik….. mengapa? Mengapa?? Aku bukan putri kalian yang masih kecil… aku sekarang sudah memasuki usia 17 tahun ke atas, aku beranjak dewasa”
Aku terkejut ketika Ayahku menjawab pertanyaanku itu…
“Bukanya Ayah tidak mengizinkan kamu, Orang tua mana sih yang rela jauh dari anak-anak mereka? Ayah juga mau melihat kamu bahagia, mengenyang pendidikan setinggi mungkin, melihat kamu dan kakakmu sukses, Ayah ingin itu….! Ayah malu, tidak mampu memberikan kebehagiaan seperti anak-anak yang lain”
Aku terharu, dan terus diam eh, tau-tau nangis bareng… hehe..
“Ayah gak bisa bayangin kalo kamu tinggal diluar kota, jauh dari pengawasan orang tua, walaupun ayah percaya sama kamu, tapi itu tidak bisa menjadi jaminan keselamatanmu, Ayah tahu persis sifatmu, kalau kamu sakit bagaimana??, siapa yang ngurusin? Apakah temanmu nanti akan peduli dengan kondisimu? Buat apa kamu sukses, jika tidak bisa membuat Ayah dan Ibu bahagia? Buat apa pula Ayah dan Ibu banyak uang, jika anaknya sengsara?? Apakah kamu tidak kasihan kepada kami? Anak kami Cuma kalian, kami hanya memiliki dua putri… kami tidak pernah membeda-bedakan kalian, cukup kakakmu yang berjuang di sana, yang kakakmu butuhkan ialah dukungan dan Doa kita…”
“ di rumah ini Cuma kita bertiga, jika kamu tidak ada disini, Ayah tidak bisa bayangkan….. mungkin akan terlihat seperti orang linglung, biasa mendengar nyanyian kamu, ocehan kamu, manjanya kamu… Ayah tidak bisa bayangkan itu!!!”
“asal kamu tahu, Seruan Do’a Ayah (Kami orang tua) tak luput dari mendo’akan kalian (Anak).. karena Ayah tidak bisa berbuat sehebat Ayah-ayah yang lain, Ayah hanya mampu berdo’a Kepada Allah Tuhan kami atas kebahagiaan kalian”
Yaaahh, jadi nangis bareng deh hehe…, disitulah aku lebih merasa menjadi dewasa karena aku mendengar nasehat-nasehat yang begitu agung…
Aku sekarang mengerti, Mengapa Kedua oarang tuaku masih menganggap aku seperti anak kecil, yah…. Karena orang bijak bilang… “Orang tua yang baik adalah orang tua yang menganggap putra-putrinya masih seperti anak kecil, bahkan seperti bayi…. Karena dari situ, Kasih sayang orang tua tidak berubah sedikit pun mulai dari kecil hingga dewasa”
Subhanallah ….
Aku sekarang lebih memaknai hidup dengan bersyukur, dan Allah meberi Rizkiku tak jauh dari tempat tinggalku… Alhamdulillah, Wasyukurillah.
Untuk kakaku tersayang, do’a kami menyertaimu… sabarlah, dan kuatlah, tetaplah dengan hatimu yang mulia kebahagian bersama kita, selagi kita terus bersyukur…..”
:-)
……Aku bersyukur Punyai keluarga yang begitu menyayangiku….
ANAK-ANAK Jelas kedududkannya, yaitu belum dapat hidup sendiri, belum matang dari segala segi, tubuh masih kecil, organ-oragan belum dapat berfungsi secara sempurna, kecerdasan, emosi dan hubungan sosial belum selesai pertumbuhannya. Hidupnya masih bergantung pada orang dewasa. Belum dapat diberi tanggung jawab atas segala hal. Dan mereka menerima kedudukan seperti itu.
Masa DEWASA juga sangat jelas. Pertumbuhan jasmani telah sempurna, kecerdasan dan emosi telah cukup berkembang, segala organ dalam tubuh telah berfungsi secara baik. Disamping itu Dia telah mampu mencari rizki untuk kepentingan dirinya, Dia tidak lagi bergantung kepada orang tua atau orang lain. Dia telah dapat diberi tanggung jawab dan mampu memikul tanggung jawab tersebut. Dia diterima oleh masyarakat, dimana ia berada sebagai orang dewasa yang matang, pendapatnya patut didengar, pertimbangannya perlu diindahkan dan dia diberi kepercayaan untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, baik kegiatan sosial, politik, ekonomi maupun agama.
Akan tetapi, lain halnya dengan masa REMAJA. Jika dilihat tubuhnya, ia telah seperti orang dewasa, jasmaninya telah jelas berbentuk laki-laki atau wanita. Organ-organnya telah dapat pula menjalankan fungsinya. Dari segi lain dia sebenarnya belum matang, segi emosi dan sosial masih memerlukan waktu untuk berkembang menjadi dewasa. Dan kecerdasan pun sedang mengalami pertumbuhan. Mereka ingin berdiri sendiri, tidak bergantung lagi kepada orang tua atau orang dewasa lainnya, akan tetapi mereka belum mampu bertanggung jawab dalam soal ekonomi dan sosial. Apalagi kalau dalam masyarakat, di mana ia hidup syarat-syarat untuk dapat diterima dan dihargai sebagai orang dewasa itu banyak, misalnya keterampilan dan kepandaian pengetahuan dan kebijaksanaan tertentu.
*) itu semua tergantung dari berbagai Faktor…. Seperti Lingkungan, gaya hidup dan tentunya kepribadian diri sendiri…. Dan usia pun tidak menjadi patokan bahwa seseorang bisa dikatakan Anak-anak, Dewasa, atau Remaja.
Berbagai peristiwa besar terjadi di hari kelahirannya
Fajar pagi sebentar lagi terbit. Hari itu, Senin, 12 Rabiulawal, saat sebagian warga Mekah terlelap dalam mimpi, terdengar pekik tangis bayi suci yang baru lahir. Ia adalah bayi yatim, karena beberapa bulan sebelumnya ayahandanya baru saja wafat.
Penyair Al-Barzanji menggambarkan, suasana kamar yang temaram tiba-tiba berkilauan karena wajah sang bayi memancarkan cahaya laksana purnama. Disaat yang bersamaan, seluruh makhluk Allah selain jin, setan dan manusia, menyenandungkan puja-puji sebagai ungkapan rasa syukur atas hadirnya seorang bayi yang akan menjadi rahmat bagi semesta alam. Dialah Muhammad.
Kehadiran Muhammad bukanlah hal yang tiba-tiba. Sebab, Allah telah merencanakan kehadirannya jauh sebelum penciptaan alam semesta. Bahkan Nabi Adam pun telah mengetahui nama beliau, dan berwasilah melalui namanya untuk bertobat. Kala itu Nabi Adam berdo’a “Ya Allah, Ya Tuhanku, aku memohon ampun kepada-Mu dengan hak Muhammad, aku yakin Engkau akan mengampuniku”.
Allah bertanya, “Bagaimana kau mengetahui Muhammad, sedangkan Aku belum menciptakannya?”
Maka jawab Adam, “Ya Tuhanku, karena Engkau menciptakan aku dengan tangan-Mu, dan meniupkan pada diriku roh-Mu, lalu mengangkat kepalaku sehingga aku melihat tiang-tiang Arasy yang bertuliskan La ilahaillallah Muhammad Rasullallah (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah rasul Allah). Sehingga aku tahu, Engkau tidak mempersandingkan seseorang pada nama-Mu melainkan sosok yang paling Engkau cintai.”
Allah pun berfirman, “Engkau benar, hai Adam. Sesungguhnya Muhammad adalah sosok yang paling Aku cintai. Dan jika engkau meminta kepada-Ku dengan haknya, pasti aku akan mengampunimu. Dan jika bukan karena Muhammd, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”
Ramalan tentang akan datangnya seorang Rasul di Jazirah Arab juga telah termaktub dalam beberapa kitab suci sebelumnya, seperti Taurat dan Injil. Hal itu diketahui dari cerita sahabat Salman Al-Farisi. Dalam pengembaraanya, ia bertemu beberapa pendeta Yahudi dan Nasrani yang memperbincangkan akan datangnya Nabi baru sebagaimana termaktub dalam kita-kitab suci mereka. Juga ketika Buhaira, seorang pendeta Nasrani, mengenali tanda-tanda kenabian Muhammad, kala Nabi, yang ketika itu masih kecil, menemani pamannya, Abu Thalib, berdagang ke Syam.
Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash menceritakan, ada seorang pendeta di Marr Al-Zhahran di Syiria bernama Easa sering berkata, “Sudah tiba saatnya kelahiran seorang anak di Mekah yang akan ditaati oleh seluruh orang Arab, dan orang-orang non-Arab. Ini adalah waktu baginya.” Itu sebabnya setip kali ada seorang bayi lelaki lahir, ia selalu menanyakan bagaimana tanda-tandanya.
Tiga Tanda
Ketika Muhammad lahir, pendeta Easa berkunjung ke rumah Abdul Muthalib, kakek Nabi. Katanya “Semoga engkau adalah ayah bayi yang baru lahir yang diberkati, yang telah kuceritakan kepadamu. Aku pernah mengatakan, ia akan dilahirkan pada hari Senin, menerima kenabiannya pada hari Senin, dan wafat pada hari Senin.”
Abdul Muthalib menjawab, “Malam ini menjelang fajar, aku memiliki bayi lelaki yang baru lahir.”
Sang pendeta bertanya, “Kau beri nama apa dia?”
“Muhammad”, jawab Abdul Muthalib .
“Aku meramalkan, bayi yang baru lahir itu berasal dari masyarakatmu. Aku mengenalnya karena tiga tanda : bintangnya muncul kemarin, ia dilahirkan di hari ini, dan namanya Muhammad.”
Sementara itu, Aisyah meriwayatkan, pada malam kelahiran Muhammad itu ada seorang pedagang Yahudi yang singgah di Mekah. Ia bertanya, “Wahai kaum Quraisy, adakah seorang bayi yang baru dilahirkan diantaramu?”
Mereka menjawab, “Kami tidak tahu.”
Ia lalu berkata, “Malam ini Nabi umat terakhir dilahirkan. Di antara kedua bahunya ada tanda beberapa rambut di atasnya.”
Mereka lalu menemani pedagang Yahudi itu mengunjungi ibunda Muhammad, dan bertanya apakah mereka dapat melihat sang bayi. Sang ibunda pun lalu membawa putranya yang baru lahir itu. Mereka kemudian membuka punggungnya. Ketika melihat tanda yang dimaksudkan itu, pedagang Yahudi tersebut pun pingsan. Saat sadar ia berkata, “Demi Allah, kenabian telah berlalu meninggalkan Bani Israel.”
Mayoritas sejarawan sependapat, Muhammad dilahirkan pada Tahun Gajah, lima puluh hari setelah Raja Abrahah dari Abbesinia menyerang Ka’bah pada 570 M. hari kelahiran Nabi, Senin juga merupakan hari istimewa bagi umat Islam, karena saat itu ada beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi. Menurut Ibbn Abbas, “Muhammad SAW, dilahirkan pada hari Senin, diangkat menjadi Nabi pada hari Senin, meninggalkan Mekah untuk berhijrah pada hari Senin, tiba di Medinah juga pada hari Senin, dan membawa batu hitam (Hajar Al-Aswad) juga pada hari Senin.” Dan Nabi Muhammad SAW, juga wafat pada hari Senin.
Menjelang kelahirannya, ada beberapa peristiwa ajaib, sebagaimana diriwayatkan oleh Yaqub Ibn Sufyan. Misalnya, istana Kisra Agung Persia berguncang hebat, menyebabkan empat belas balkonnya runtuh. Selain itu, api abadi di kuil Zarathurtra di Persia yang telah menyala selama 1.000 tahun, tiba-tiba padam. Sementara air danau Tiberia menguap habis. Menurut riwayat lain, pada malam kelahiran itu penjagaan langit diperketat dan para malaikat penjaga dipersenjatai dengan bola api untuk mencegah setan yang bermaksud mencuri berita langit.
Keajaiban lain, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibn Umar, Muhammad SAW dilahirkan dalam keadaan telah terkhitan, sementara tali pusarnya telah terputus. Menurut sahabat Anas, Nabi SAW bersabda, “Salah satu dari tanda-tanda kehormatan yang dikaruniakan Tuhanku ialah, aku dilahirkan dalam keadaan telah terkhitan, dan tak seorang pun melihat bagian pribadiku.”
Menurut Al-Hakim, kelahiran Nabi SAW telah diberitakan oleh Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab. Paman Nabi SAW. Karena membawa berita gembira itu, Tsuwaibah dibebaskan oleh Abu Lahab. Setelah Abu Lahab meninggal, Tsuwaibah melihatnya dalam mimpi.
Ia bertanya, “Bagaimana keadaanmu?”
Abu Lahab menjawab, “Aku ada di neraka. Tapi aku dapat keringanan setiap hari Senin, di mana aku minum air dari titik yang terletak diantara jari-jariku. Ini keajaiban yang aku terima karena membebaskan Tsuwaibah saat ia membawa berita kelahiran Muhammad.” (Subhanallah)
Nah, jika tokoh kafir yang sangat memusuhi Rasulullah SAW saja mendapat Anugerah dari Allah SAW karena gembira mendengar kelahiran Nabi, apalagi umat Islam yang setiap tahun menyambut kehadiran Sang Purnama Penerang Dunia itu di bulan Rabiulawal atau Maulud.
“Salam bagi-MU wahai utusan Allah, beserta Rahmat dan berkah-Nya”
Allahumma shalli wa salim wa barik ‘alaih.
“Barang siapa mempunyai anak bayi lalu membacakan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kirinya, niscaya jin penggoda anak-anak tidak akan mengganggunya. “