selamat datang

layar


Tuesday, 17 September 2013

Aku dan Perjodohan



AKU DAN PERJODOHAN

Selamat datang Bulan September… Sudah lama aku gak posting yah…. Karena sibuk dan memang jaringan kurang bersahabat.
Seperti yang selalu aku bilang, di dunia ini tidak ada yang kebetulan… semua berjalan sesuai kehendak Tuhan…  daun jatuh, hujan turun, tangis dan tawa semua terjadi dalam rencana-Nya.. termasuk cerita cintaku yang selalu hadir di akhir tahun… entah berapa lama?? I Don’t Know…

Malam ini aku  mengenakan hijab berwarna coklat panjang, kemeja bunga-bunga, rok hitam dan kaos kaki hitam, sambil merias diri menunggu sepupuku menjemputku untuk mengikuti kegiatan sosial karang taruna di masjid tempat tinggalku, kali ini aku dan semua anggota akan menjenguk salah satu tetangga yang sudah hampir seminggu sakit parah dan harus rawat inap di sebuah Rumah Sakit. Tapi sekarang keadaan sudah membaik, kini aku dan semua anggota akan berkujung ke rumah beliau..
Tiba-tiba ada tamu datang ke rumahku, aku kira itu adalah sepupu yang akan menjemputku. Tapi ternyata bukan, tamu tersebut adalah pakdeku yang bertempat tinggal di desa sebelah. 

Singkat cerita. Ternyata Pakde datang ke rumah untuk memperkenalkan seseorang kepadaku.
Aku dan kedua orang tuaku lumayan terkejut karena sebelumnya pakde belum pernah membicarakan hal itu kepada kami. Aku pun menyiapkan makanan dan minuman selayaknya tuan rumah. Mengobrol sebentar, dia sempat menanyakan nama lengkapku, tapi kami belum mengobrol banyak tiba-tiba sepupuku datang dan menjemputku untuk mengikuti acara sosial karangtaruna tadi. Jadi akupun berpamitan kepada mereka semua.
Usai mengikuti acara sosial, aku pulang kerumah dan ternyata para tamu sudah pulang.

“Pah, tamunya udah pada pulang yah?” Aku.
“Iya, Cuma sebentar papah juga belum ngobrol banyak” papah.
“sebenarnya ada apa sih pa? (aku penasaran)” aku
“ya itu pakdemu, punya kenalan dia sedang mencari pasangan. Katanya pengen cari pasangan yang bener-bener, yang baik, rajin ibadahnya, kalau wajah gak jadi masalah… eh, Pakdemu kepikiran sama kaka kamu dan kamu” papah
“maksud papah, aku dijodohin???” aku (gemetar seluruh tubuh)
“papah pikir sih, orang berkenalan bersilaturahmi silahkan saja apa salahnya?” papah
“tadinya pengen dikenalin sama kaka kamu, berhubung kaka kamu sudah punya pilihan jadinya sama kamu” papah
“Tapi pah, untuk ke arah jauh kaya semacam pernikahan aku belum siap apa-apa. Aku gak mau dijodohin pah….” Aku (mataku menahan tetesan air mata)
“Ya ampuuuuun, Cuma kenalan saja… papah juga ngerti kok perasaan kamu” papah
“Dengerin papah, kamu sekarang sudah dewasa… papah udah percaya sama kamu insyaallah bisa jaga diri baik-baik, sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Termasuk penilain terhadap seseorang. Kamu tenang saja, selama papah masih hidup, papah akan memberikan yang terbaik untuk anak-anak papah. Papah gak maksa kamu harus nikah dengan pilihan pakde, papah, mimih, atau pilihan keluarga lainnya. Kami hanya memberikan yang terbaik untuk kamu..  selebihnya dikembalikan lagi sama kamu, walaupun mereka memaksa, tetap restu itu ada di tangan papah, kamu masih jadi tanggung jawab papah” papah

Mendengar ucapan papah, aku terdiam dan merenung sejenak. Ada rasa haru, bahagia, dan bangga betapa beruntungnya aku memiliki sosok ayah yang bijaksana, sosok ibu yang tak memaksa kehendak anak. Tak terasa aku sekarang sudah dewasa usia 21 tahun ini, seharusnya aku lebih bersikap dewasa. 

“Jadi jangan cemberut, dan tegang gak karuan gitu, santai ajah… masalah cinta atau tidak itu nanti urusan kalian berdua, yang jelas kamu gak boleh jutek, apalagi berkata kasara sampe nyakitin hati laki-laki. Apapun alasannya, dalam sebuah hubungan sebisa mungkin kesalahan itu jangan ada sama anak papah, kamu masih inget kan waktu kamu pacar-pacaran dulu, papah salut sama keputusan kamu. Papah bangga sama kamu” papah.
 
Aku tersenyum dan memeluk papah.

“Pah, kalo aku sih udah pasrah pah… Cuma ya kaget ajah mendengar perjodohan itu…  dari dulu aku dijodoh-jodohin. Sama ini sama itu. Apa karena mereka belum percaya sama aku? Apa karena aku jarang kemana-mana? Apa karena mereka khawatir aku takut sakitin?” aku

“Niat pakde dan keluarga yang lain itu baik, papah akui itu.  Mbak kamu ajah belum nikah, jadi gak semudah itu papah menjodohkan kamu.” papah
“iya pah, sebenarnya aku juga ingin memperkenalkan orang yang aku sayangi sama papah… tapi semua itu belum terwujud. Aku akan sabar pah, jika semua usahaku sudah mentok.  Baru aku akan meminta papah untuk mencarikan pasangan hidupku” aku
“iya papah ngerti. Yasudah kita lihat saja nanti… lagian perjalanan kamu masih panjang. jika dia tertarik sama kamu, dia pasti akan menghubungi kamu lagi, begitu sebaliknya. Papah juga belum terlalu tahu tentang dia. Semua ini jangan dijadikan beban. Jalani saja hari-hari seperti biasa. Seharusnya kamu bersyukur ada orang yang suka kamu, nambah temen, namabah Rizki daripada ada yang membenci kamu?? Hayoo??” papah
“Tapi kan pah…. Rasa sayang itu gak bisa dipaksain. Toh lagian kalo udah jodoh gak bakal kemana”
“iya memang begitu, saran papah kalau dia kesini lagi, kalaupun kamu tidak suka dengan dia  bicaralah secara baik-baik, papah percaya sama anak-anak papah” Papah
“Iya Pah…” aku

 “aduh, anak papah larisss ya.. tanpa perlu sering keluar kemana-mana, eeeh banyak yang ngantri. Tapi sayang, manjanya gak ilang-ilang, juteknya juga gak ilang-ilang, jadi belum ada yang nyangkut satupun” papah
“aaaahhh.. papah ngeledek yaa!!”
(Translete dari bahasa Jawa Indramayu ke Bahasa Indonesia) hehehe…

B e r s a m b u n g ……

Begitulah kedekatan antara ayah dan seorang anak gadis.. dalam keluarga kami selalu diajarkan keterbukaan, agar saling menguatkan. Terutama papah, yang selalu ngertiin perasaanku.. keras kepalaku bisa diluluhkan dengan sikap dinginnya papah, papah paling bisa nasehatin aku… hemmm.. papah makasih banyak.
“Pah aku janji, aku akan kenalin seseorang sama papah… seseorang yang akan melindungi dan menyayangi putri papah… semoga ya pah” (dalam hatiku)





Menyejarahnya Ibu



Menyejarahnya Ibu

Sebelum membaca dengan serius perkenankan aku untuk menyeru “Aku Bangga Menjadi Wanita”
Entah kelak, aku akan menjadi seorang Ibu atau tidak. Ketetapan memanglah sudah tertulis rahasia pada Allah Subhanahu Wata’ala…
Laki-laki dan perempuan berbakti kepada ibunya. Bahkan setelah menikahpun, laki-laki akan terus berbakti kepada ibunya. Lain halnya dengan seorang wanita. Setelah menikah kebaktiannya berpindah kepada Sang Suami.  Sungguh Allah maha adil : Nah lho, nanti siapa yang berbakti kepada Ayah??  Siapa yang berbakti kepada Istri?? BUKA MATA DAN HATI 

Seorang Istri adalah calon IBU sedangkan seorang ayah merangkap peran juga sebagai SUAMI. Sudah jelas kan?.
Jadi : setelah kita menikah nanti.. Jangan sekali-kali cemburu kepada Suami yang masih manja kepada ibunya, masih sering mengunjungi ibunya…. Bahkan seharusnya dianjurkan sang istri mengingatkan juga mempereratkan hubungan sang suami kepada ibunya. Tapi sebaliknya, jika kita sebagai istri harus berbakti kepada suami. Apapun inginnya, hasratnya segera penuhi. Karena disitulah letak kebaktian kita. Begitulah Agama mengajarkan.


Rene Van de Carr berujar “Pertama kali kau menyapaku. Tanpa suara. Tetapi sangat asih. Dari diriku yang paling dalam. Disini ibu. Aku di sisni.”
            Menjadi ibu. Bagi jiwa perempuan penuh kasih adalah mimpi yang dilatih dengan kerinduan, cinta dan asahan rasa. Ia mencahayai dalam jiwa. Keringat ayah dan air mata ibu, tak terganti walau oleh darah kita. Niscayalah melirih do’a sesering kita bisa.
            Seruak cita itu adalah fitrah terindah yang dikaruniakan Allah. Kecenderungan rasa, kemuliaan! Ibu! Mulia dengan tapak kaki juangnya. Sebab tak seorang pria pun termuliakan begitu tinggi hingga syurga berada di telapak kaki. Demi Allah tak seorang lelaki jua. Hanya ibu.
            Ibu. Panggilan yang begitu menggetarkan, membiriharu, menggemakan rasa terdalam di lubuk rasa setiap wanita. Ia menggeletarkan cinta. Ada imaji surgawi dan gairah hayat menggelora tiap kali tiga huruf itu diteriakkan oleh sosok-sosok mungil yang sambut kehadiran.
            Ibu. Madarasah cantik nan agung, tempat anak-anak mempertanyakan semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak, dan keingintahuan paling dalam. Ibu. Dia dermaga yang paling tenang untuk melabuh hati saat mereka merasa gelisah. Ibu. Dia dekapan paling menentramkan saat mereka gelisah. Ibu. Dia dekapan paling kukuh untuk merebah, bertahan dari amuk badai kesedihan.
            Ibu. Dia perpustakaan terlengkap, kelas ternyaman, gelanggang terlapang. Ia tak bisa digantikan gedung-gedung megah tanpa nyawa. Yang kata orang disitu letaknya ilmu. Ibu. Panggilan yang meneguhkan keutamaan; diulangkan, didahulukan. Sang Rasul sebut ibumu tiga kali di depan, ayahmu menyusul kemudian. Ibu. Panggilan perjuangan. Cantik nian senyumnya walau pegal bawa kandungan, susah memilih baringan, bengkak kaki, dan mual tak tertahan.
            Ibu. Napas cintamu meniup kuncupku, maka ia mekar jadi bunga. Rahim adalah nama Allah; Yang Maha Penyayang. Hanya satu makhluk yang mengandung nama itu dalam tubunya yaitu IBU.
            Ibu. Namun miris massa sekarang. Ada wanita yang kini enggan menjadi kata itu. Maka kemuliaan pun enggan menyapa, seirama anggapan bahwa anak adalah belenggu. Ibu. Ketika kata itu dianggap neraka atau penjara, mereka tertuntun memasuki jerat kesendirian yang menuakan, menghampakan, mematikan. Ibu. Ketika kata itu diabaikan, ia enggan menyediakan dermaga tempat para wanita menambat perahu hati; berlabuh dari galau kehidupan. Na’dzubillah…
            Menjadi ibu, melahirkan atau tidak; setelah ikhtiar paling gigih, do’a paling tulus, dan tawakal paling pasrah adalah kemuliaan utuh. Menjdi ibu hakiki, Agar Bidadari Cemburu Padamu, terpahamlah kita; kau takkan tersaingi oleh jelita surgawi itu selama-lamanya.

Sekali lagi : “Aku bangga jadi seorang wanita…… entah akan menjadi Ibu Rumah Tangga atau berwanita karir. Aku akan terus belajar dan belajar. Entah dengan bangku kuliah atau belajar seadanya. Karena aku adalah guru bagi anak-anakku kelak. Dengan bahasa yang mengakrabkan”

Friday, 23 August 2013

PUISI UTERUS



Kedung Darma Romansha, Laki-laki kelahiran Indramayu, 25 Februari 1984. Karya-karyanya dimuat dibeberapa media massa, antara lain : Solo Pos, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Lampung Pos, Bataviase Nouvelle, Majalah Khoirul Ummah, dan Jurnal Kreativa.
Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta ini juga sering kali memenangkan beberapa lomba di dunia sastra.
Subhanallah, saya sebagai orang Indramayu asli ikut bangga dengan karya-karnyanya.
Dan salah satu karya dia yang sangat aku kagumi ialah Puisi berjudul “UTERUS”.
Gak usah lama-lama, mari kita baca!



Untuk Cinta Ibu yang Tak Pernah Putus
Bermula dari kerinduan, kemudian berangkat menuju kenang-kenangan. Inilah yang membuat saya tergerak untuk menulis puisi berjudul UTERUS. Ibu adalah tempat semua peristiwa dilahirkan. Lewat rahimnya kita menjadi manusia dengan latar belakang dan suku berbeda.
Saya ingat sekali dengan bau bumbu ditangannya. Mungkin itu salah satu yang mengirimkan saya pada UTERUS. Jika saya boleh mengumpamakan, “Surga ada di telapak tangan ibu”. Tapi terlepas dari istilah saya. Kerinduan itu memunculkan kenang-kenangan masa kecil saya. Kerinduan itu memunculkan aroma masakkannya. Kerinduan itu memunculkan kegigihannya yang jujur.
Di dalam kerinduan ini, tiba-tiba saya teringat TKI yang nasibnya dipertaruhkan di negeri orang. Banyak berita buruk tentang TKI yang saya lihat di layar televisi yang itu semua mengingatkan saya akan ibu. Sejujurnya dulu, kira-kira ketika usia saya empat tahun-tepatnya saya lupa-ibu saya sempat menjadi TKI meski nasibnya tak seperti yang dialami TKI yang kerap diberitakan akhir-akhir ini.
Saya mengibaratkan ‘perempuan yang menggadaikan mimpinya di pulau-pulau tanpa peta/tanpa jaminan’. Tapi saya tak mau larut dengan kenangan dan berita buruk itu.
Cinta ibu tak akan pernah putus. Dia hidup di ruh kita, di ruh saya. Kesetian tidak bisa dipatok dengan kematian. Karena cinta seorang ibu akan terus hidup, karena sebenarnya kita tak akan pernah mengalami ‘kematian’.
Kematian yang sering kita bicarakan adalah kematian tubuh yang sudah tak mampu lagi untuk melanjutkan segala aktivitasnya di bumi. Cinta sejati akan terus hidup sampai di alam barzah-itu juga kalau kita masih percaya dengan alam barzah.
Ibuku, yang memiliki kasih sayang yang rahasia. Senyum dan kemarahanmu sudah lebih dari kasih sayang yang kuterima. Kalau tak perlu ucapkan ulang tahun jika aku ulang tahun, karena itu bukan tradisi keluarga kami dan memang kita tak pernah memilikinya dari dulu. Cukup kau ucapkan salam dan doa dalam sujudmu. Cukup kau buatkan sambel terasi. Itu semua sudah lebih dari cukup.
Untuk ayahku, percayalah segala jerih payahmu tak akan pernah sia-sia. Percayalah doa-doa itu telah terkabulkan hanya saja menunggu waktunya yang tepat.  Untuk ibu yang keterakhir kalinya, aku ingin makan dengan telur ceplok setengah matang, sayur asem, pete, dan sambel terasi di hutan tempat ayah berladang. Salam. *Kedung Darma Romansha
 






U T E R U S
(Puisi Kedung Darma Romansha)
Untuk mengingatmu

Barangkali tak perlu kubaca gugur daun di halaman

Melihat usia meranggas dari helai-helai rambutmu

Juga angka kalender kamarku

Yang jatuh di telapak tanganmu.



Aku teringat saat malam sujud dalam gerimis

Pada setiap air mata perempuan

Yang menggadaikan mimpinya

Di pulau-pulau tanpa peta

Tanpa impian

Untuk kembali menganak-pinakkan

Mimpi yang akan ditebusnya dengan doa dan airmata.



Tapi sudahlah,

Barangkali aku tak akan mengingat itu.



Sudah lama kubingkai tahun-tahun

Dalam fotomu

Kurasakan bau bumbu di tanganmu

Adalah aroma surga yang pernah kukenal.

Aku ingin kau garuki punggungku yang gatal

Dan berpura-pura tidur di sampingmu

Aku juga ingin memperlihatkan

Gambar hariamau terbaruku

Lalu katamu :

“Kamu mau menjadi harimau?”

Aku hanya tersenyum dan tak tahu

Waktu itu,

Alangkah jujurnya senyummu

Tapi malam ini kau garuki kesepianku

Dan kugambar wajahmu di sebidang kanvas puisi

Lalu waktu merampasnya

Di usiaku yang dewasa



Bu, usia memang bukan patokan

Untuk menggadaikan kesetiaan

Sebab kematian adalah kehidupan yang lain

Seperti katamu, segala yang dilahirkan

Pasti akan mengalami kematian

Dan setiap kematian

Akan mengalami kelahiran lain.



Di sini,

Ketika hari patah dalam nafasmu

Segala peristiwa diciptakan

Dari rahimmu yang suci.

Lalu kita diberangkatkan

Oleh kesakitan yang sama

Bersama tangis dan darah



Mimih.... Lia Sayang banget sama mimih *BigHUG  :-*

Monday, 5 August 2013

Urusan perasaan, perasaan, dan perasaan



*Urusan perasaan, perasaan, dan perasaan
By :
*tere Lije



Saya akhirnya menulis tentang ini, sebenarnya akan lebih baik jika kalian berproses menemukan pemahaman ini, proses yg kelok-kelok, terjaga, penuh kehormatan, selamat tiba di ujungnya. Itu akan lebih spesial, membekas, lantas mengenang semuanya sambil tertawa, ah, dulu ternyata semua itu lucu ya.

Tapi baiklah, karena page sy ini persentase anggota remaja hingga usia 22-nya tinggi sekali, dan jika sy tdk hati2, malah bisa salah paham, ada yg seolah2 mendapatkan pembenaran, maka akan sy rangkum beberapa poin penting urusan perasaan menurut versi tere liye (yg akan kalian jumpai paralel konsepnya dgn di novel, buku2).

1. Jatuh cinta itu manusiawi. Urusan perasaan, urusan membolak-balik hati itu adalah milik Allah. Boleh jatuh cinta? Ya boleh, tidak ada ulama dari mazhab manapun yg melarang jatuh cinta lawan jenis, mengharamkannya. Apalagi, duhai, seperti terjatuh, kita tdk pernah tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Tiba2 perasaan itu sudah mekar tak berbilang.

2. Lantas, kalau kalian jatuh cinta, so what? Nah, ini bagian yg menariknya. Kalian mau menyatakan perasaan itu? Lantas so what? Kalian mau dekat2 dgn seseorang itu? Kalian mau telpon2an, tahu dia sedang apa, apakah bisulnya sudah sembuh, apakah panunya tidak melebar, apakah konstipasinya sudah hilang, sudah bisa ke belakang? Kebanyakan di usia remaja, hingga 20-an something, lantas kemudiannya ini yg tidak jelas. Pacaran? Tidak pacaran? Langsung menikah?

3. Ketahuilah, kita hidup dalam norma2, nilai2, batasan2 yg harus dihormati. Kecuali kalau kalian menolak norma2, nilai2, batasan2 tersebut, silahkan (dan berhenti sudah meneruskan membaca notes ini, karena kalian sudah tdk se-zona waktu lg dgn tulisan ini). Itu benar, memiliki perasaan itu kadang serba salah, makan tak enak, tidur tak enak. Itu benar, ada keinginan utk tahu apakah seseorang itu balik menyukai, keinginan utk bilang, cemas nanti dia digaet orang. Tapi kalau hanya ini argumen kalian, oh dear, orang2 sakau, ngobat, lebih tersiksa lagi saat dipisahkan dr hobinya tersebut. Mereka bisa mencakar2, bahkan melukai diri sendiri hingga begitu mengenaskan dan (maaf) is dead. Sy rasa, seingin apapun kalian jumpa dia, paling cuma nangis, tidak akan mati. Itulah kenapa hidup kita ini punya peraturan, agar semua orang bisa punya pegangan, selamat dr merusak dirinya sendiri. Sy tdk akan menggunakan dalil2 agama dalam notes ini--karena orang2 yg pacaran, kadang risih mendengarnya. Jadi kita sama2 kuat, sy pakai logika kalian sj.

4. Tapi saya harus bilang agar lega, bagaimana dong? Ya silahkan saja kalau mau bilang. Tapi camkan ini baik2, cinta sejati adalah melepaskan. Catat itu baik2, tanyakan pd pujangga kelas dunia, hingga pujangga amatiran narsis tere liye, semua bersepakat, cinta sejati adalah melepaskan, lepaskan dia jauh2, maka kalau memang berjodoh, skenario menakjubkan akan terjadi. Jadi? Kalau kalian belum jelas so what-nya, lantas kemudian mau apa setelah bilang, maka mending ditahan, disimpan dalam hati. Tuhan itu mendengar, bahkan desah tersembunyi anak manusia di pojok kamar paling gelap, paling sudut, di salah-satu kampung paling terpencil, paling jauh dari peradaban, paling tdk ada aksesnya. Jodoh itu misteri. Kalau nggak pakai usaha, nanti nggak dapat, gimana dong? Tentu saja usaha, tapi bukan dengan pacaran. Usaha terbaik mencari jodoh adalah: dgn terus memperbaiki diri. Nggak paham, kok malah aneh, malah disuruh memperbaiki diri. Ya itulah, dalam banyak hal, kalau kita nggak nyambung, memang nggak ngerti. Misalnya, banyak orang yg mikir kalau mau dapat ikan itu harus mancing di sungai. Padahal sebenarnya sih, kalau mau ikan, ya tinggal pergi ke pasar ikan. Lebih tinggi kemungkinan dapat ikannya--asumsinya punya uang.

5. Tapi apa salahnya pacaran? Boleh2 saja dong? Saya justeru merasa lebih semangat, lebih kreatif, lebih apa gitu setelah pacaran? Nah itu dia, kalian benar2 menyimpan bom waktu jika meyakini pacaran itu memberikan energi positif. Pacaran itu bentuk hubungan, dan sebagaimana sebuah bentuk hubungan antar manusia, posisinya rentan rusak, gagal, dan binasa. Boleh jadi betul, riset canggih akademik membuktikan orang2 pacaran bisa memperoleh motivasi baik, tapi saya, tidak akan memilih menggunakan 'pacaran' sbg sumber energi, mengingat sifatnya yg temporer sekali. Mending sy milih kekuatan bulan, jelas2 bulan itu sudah ada milyaran tahun, pacaran paling mentok hitungan jari tangan bertahannya.

6. Baik, baik, lantas kalau tidak boleh pacaran, gimana dong? Kongkretnya apa yg harus sy lakukan? jawabannya mudah: Tidak ada yg perlu dilakukan. jatuh cinta, alhamdulillah, itu berarti tanda kita normal. lantas? Biarkan saja. Sibukkan diri sendiri dgn hal2 positif, isi waktu bersama teman2, keluarga. Belajar banyak hal, mempersiapkan banyak hal. Hanya itu. Nggak seru, dong? Lah, memangnya kalau pacaran seru? Paling juga cuma nonton ke manalah, pergi kemanalah. Pacaran itu seolah seru, karena dunia telah menjadi etalase industri entertainment. Pesohor2 menjadi teladan--padahal akal sehat siapapun tahu itu bahkan rendah sekali nilainya. Dari jaman batu, hingga kelak dunia ini game over, pegang kata2 saya: menghabiskan waktu bersama orang tua, kakak, adik, teman2 terbaik selalu paling seru. Apalagi jika ditambah dgn terus belajar, produktif, dsbgnya.

7. Lantas bagaimana sy melewati masa2 galau ini? Lewati seperti kebanyakan remaja lainnya. Lurus. Boleh kalau kalian mau menulis diary tentang perasaan2 kalian. Boleh galau menatap langit2 kamar. Boleh cerita2 curhat sama teman dekat dan orang tua. Boleh, tapi ingatlah selalu perasaan itu punya kehormatan. Kalian pasti sebal kan lihat teman sekelas yg tiba2 datang ke sebuah pesta ultah (padahal dia tidak diundang), sudah tdk diundang, makannya paling banyak, teriakannya paling kencang, paling gaya, norak, tidak tahu malu. Nah, ada loh--bahkan banyak-- orang2 yg tdk sadar kalau dia sebenarnya juga norak dan tidak tahu malu dalam urusan perasaan. Ya, kita sih kadang tdk merasa kalau sudah genit, ganjen, lebay. Sy tahu, istilah menjaga kehormatan perasaan ini boleh jd susah dipahami, tapi itu nyata, orang2 yg bisa menjaga perasaannya, maka se galau apapun dia, sesengsara apapun dia menanggung semua perasaan, besok lusa, kemungkinan untuk tiba di ujungnya dgn selamat akan lebih besar. Jangan coba2 berdua2an, jangan coba2 pergi kemanalah hanya berdua, bergandengan tangan, dsbgnya. Itu benar2 menghabisi kehormatan kalian.

8. Nah, bersabarlah. Tunggu hingga kalian memang telah siap. Jika sudah yakin, silahkan kirim sinyal2, menyatakan perasaan, lantas silahkan libatkan orang tua. Btw (masih ngeyel), tapi banyak juga orang2 yg menikah tanpa pacaran bercerai, kok. Dan sebaliknya, orang2 yg pacaran malah langgeng? Itu benar. Sama benarnya dgn banyak orang2 yg mabuk2an, ngobat, tetap saja umurnya panjang. Eh, ada tetangga, alimnya ampun2an, malah meninggal lebih dulu. Harusnya kan kalau mereka melanggar peraturan, langsung ada petir menyambar. Menikah, membina keluarga, langgeng atau tdk, bahagia atau tidak, boleh jadi tdk ada korelasinya dgn pacaran atau tidak. Kita mungkin tdk pernah tahu misteri ini, tapi dengan menjalani prosesnya dgn baik, mengakhirinya dgn baik, semoga fase berikutnya berjalan dgn baik.

Sy konsen sekali masalah pacaran ini, karena sy tdk ingin kalian menghabiskan masa2 penting kalian utk urusan perasaan yg sebenarnya di usia kalian tdk penting2 amat. Dan sy harus bilang, orang2 yg paham, mengerti benar bahwa pacaran adalah pintu gerbang pergaulan bebas. Itu mengerikan. Masa' kalian mau dekat2 dengan pintu yg ada tandanya 'pergaulan bebas'. Saya bisa menjaga diri kok, tenang saja. Well, rasa2nya tidak ada orang di muka bumi ini, di zaman sekarang, yg bisa bilang dia sempurna bisa menjaga dirinya. Kalau bisa, maka setan akan gigit jari.

Sy membuat beberapa novel tentang perasaan, semoga itu bisa menjadi salah-satu alternatif kalian memahami beberapa poin di atas, hidup ini memiliki batasan2 yg tdk bisa dilanggar, bahkan sekuat apapun cinta tsb. Selalu ambil sisi positif dlm cerita2 tsb, lihat dr sudut pandang berbeda, maka boleh jd kalian akan menemukan pemahaman baru yg baik. Bukan sebaliknya, mengambil yg bisa memberikan argumen buat kalian--karena namanya novel, tentu sj sy harus memasukkan tokoh2 buruk, jahat. Sy juga menumpahkan banyak postingan soal ini, konsen saya.

Sy benar2 tdk bisa melakukan hal yg lebih kongkret dalam urusan ini, selain dgn tulisan2. Tapi itu hanya tulisan2. Itulah kenapa sy sangat menghormati guru2, orang2 dewasa, orang tua di sekitar remaja yg lebih kongkret, secara terus menerus menanamkan pemahaman itu ke remaja2 mereka. Dan di atas segalanya, yg akan membuat itu berhasil atau tidak, adalah kalian sendiri.